kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.531.000   5.000   0,20%
  • USD/IDR 18.153   -6,00   -0,03%
  • IDX 5.097   39,78   0,79%
  • KOMPAS100 657   5,57   0,85%
  • LQ45 518   2,72   0,53%
  • ISSI 170   0,84   0,50%
  • IDX30 291   1,43   0,49%
  • IDXHIDIV20 391   -0,27   -0,07%
  • IDX80 76   0,57   0,76%
  • IDXV30 109   -0,28   -0,25%
  • IDXQ30 97   -0,51   -0,52%

Jaga Hutan Kalimantan, Kalara Borneo Bangun Rantai Pasok Kakao Masyarakat Adat


Senin, 02 November 2026 / 08:21 WIB
Jaga Hutan Kalimantan, Kalara Borneo Bangun Rantai Pasok Kakao Masyarakat Adat
ILUSTRASI. Pelatihan Penguatan Lembaga Petani Kakao di Kabupaten Kapuas Hulu (Kalara Bornoe/Kalara Borneo.png)


Reporter: Asnil Bambani Amri | Editor: Asnil Amri

KONTAN.CO.ID - Upaya menjaga kelestarian hutan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Prinsip tersebut menjadi salah satu pendekatan Kalara Borneo, usaha sosial pengolahan cokelat di Kalimantan Barat, dalam mengembangkan bisnis kakao berbasis agroforestri.

Melalui pembelian biji kakao langsung dari pekebun dan pendampingan pengelolaan kebun, Kalara berupaya menghidupkan kembali kebun kakao masyarakat adat yang telantar. Langkah ini sekaligus diharapkan dapat mencegah alih fungsi kebun menjadi perkebunan kelapa sawit.

Kepala Produksi Kalara Borneo, Yessy Octavia R. Tuani Mangasih, mengatakan sebagian kebun kakao masyarakat sebenarnya sudah ditanami sejak bertahun-tahun lalu. Namun, kebun tersebut tidak lagi terawat karena pekebun kesulitan memasarkan hasil panennya.

"Kami tidak ingin kebun telantar itu berubah menjadi kebun kelapa sawit," kata Yessy dalam rangkaian Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026 di Bangkok, Thailand, Oktober lalu.

Menurut Yessy, masyarakat adat yang selama ini berperan menjaga hutan juga membutuhkan sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk biaya pendidikan anak dan kebutuhan sehari-hari. "Masyarakatnya, oke, mereka jaga hutan. Tapi mereka dapat uang dari mana?" ujarnya.

Karena itu, Kalara berupaya membangun rantai pasok kakao yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Biji kakao dibeli langsung dari pekebun, kemudian diolah menjadi produk cokelat di Pontianak.

Dalam menjalankan model bisnis tersebut, Kalara bekerja sama dengan Langkau Onet dan Yayasan Kalimajari untuk mendampingi masyarakat. Pendampingan antara lain dilakukan melalui sekolah lapang, penyediaan bibit, serta edukasi mengenai perawatan tanaman dan peningkatan kualitas biji kakao.

Baca Juga: Bisnis Rental Mobil Tetap Tumbuh Meski Anggaran Perjalanan Dinas Dipangkas 30%

Yessy bilang, kualitas biji kakao menjadi salah satu faktor penentu harga pembelian. Kalara memberikan pemahaman kepada pekebun mengenai standar fermentasi dan kondisi biji yang memenuhi persyaratan pengolahan. "Semakin bagus kalian kasih biji ke kita, semakin tinggi harga yang akan kita kasih ke kalian," kata dia.

Mengandalkan kebun campuran

Selain membuka akses pasar, Kalara mendorong pengembangan kakao dengan sistem agroforestri atau budidaya tanaman yang mengombinasikan pepohonan dan komoditas pertanian lainnya. Menurut Yessy, pendekatan tersebut sejalan dengan sistem tembawang yang telah lama dikenal masyarakat adat dalam mengelola kebun campuran.

Di Kapuas Hulu, misalnya, tanaman kakao tumbuh bersama pisang, nanas, jengkol, petai, dan kopi. Di Sintang, kakao ditanam di sela-sela pohon karet. Sementara di Sanggau, tanaman kakao tumbuh berdampingan dengan durian.

Sistem tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh pendapatan dari beragam komoditas tanpa harus membuka lahan baru dengan menebang pohon di hutan. "Jadi, kami hanya menghidupkan kembali sistem perkebunan yang sudah lama dipraktikkan oleh masyarakat adat. Tidak perlu mencari sistem yang baru," ujar Yessy.

Dia menambahkan, pengembangan agroforestri juga berkaitan dengan upaya jangka panjang menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.

Namun, Yessy mengingatkan bahwa agroforestri bukan solusi instan untuk mengatasi kebakaran hutan. Diperlukan edukasi dan pendampingan berkelanjutan agar masyarakat mampu merawat tanaman, meningkatkan kualitas hasil panen, sekaligus memperoleh nilai ekonomi dari kebun mereka.

Di sisi hilir, Kalara mengolah biji kakao yang dibeli dari pekebun menjadi produk cokelat di rumah produksinya di Pontianak.

Usaha sosial yang digagas Yohana Tamara tersebut bermula dari serangkaian percobaan mengolah kakao di dapur rumah. Kalara ingin memperkenalkan potensi kakao Kalimantan Barat sekaligus mengembangkan nilai tambah komoditas tersebut di daerah asalnya.

Baca Juga: Gapki: Pelemahan Rupiah Tak Otomatis Untungkan Eksportir Sawit

Kegiatan produksi saat ini melibatkan sekitar 10 anak muda yang belajar mengolah biji kakao hingga menjadi cokelat batangan. Kalara juga membuka kesempatan bagi pekebun untuk melihat langsung proses pengolahan hasil kebun mereka.

Melalui pendekatan tersebut, Kalara ingin membangun hubungan antara konsumen, produk cokelat, pekebun, dan ekosistem hutan tempat kakao tumbuh.

"Kita menjual cokelat bukan hanya sekadar cokelat. Di situ ada cerita tentang petani, di situ ada cerita tentang hutan, di situ ada cerita tentang ekosistem," kata Yessy.

Praktik bisnis Kalara tersebut turut menjadi bagian dari pembahasan ekonomi berbasis alam dalam BKKCAW 2026. Dalam rangkaian kegiatan itu, Koalisi Ekonomi Membumi menggagas Paviliun Ekonomi Berbasis Alam yang mempertemukan pelaku usaha dan komunitas yang menjadikan alam sebagai fondasi penghidupan dan pengembangan bisnis.

Direktur Eksekutif Koalisi Ekonomi Membumi Fito Radianto mengatakan, negara-negara Global South mulai mempertanyakan sekaligus merancang ulang sistem ekonomi agar kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan dengan kelestarian alam.

"Negara-negara Global South mulai mempertanyakan dan merancang ulang sistem ekonomi agar kesejahteraan masyarakat dapat berjalan seiring dengan kelestarian alam," ujar Fito.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×