kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.526.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Gapki: Pelemahan Rupiah Tak Otomatis Untungkan Eksportir Sawit


Senin, 02 November 2026 / 06:42 WIB
Gapki: Pelemahan Rupiah Tak Otomatis Untungkan Eksportir Sawit
ILUSTRASI. Tandan Buah Kelapa Sawit (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak serta-merta memberikan keuntungan lebih besar bagi industri kelapa sawit nasional, termasuk perusahaan yang memiliki eksposur ekspor.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan, pelemahan rupiah juga diikuti kenaikan sejumlah komponen biaya produksi dan operasional industri sawit.

Kondisi tersebut membuat potensi keuntungan dari penerimaan ekspor dalam dolar AS perlu diperhitungkan dengan kenaikan biaya yang harus ditanggung perusahaan.

Baca Juga: Denominasi USD Tak Jamin Untung, Reksadana Saham Indonesia Anjlok

Menurut Eddy, kenaikan biaya tidak hanya dipengaruhi pelemahan rupiah, tetapi juga dampak perang yang mendorong kenaikan biaya angkutan logistik, asuransi, hingga harga pupuk.

"Harga pupuk naik sampai 30%. Pupuk adalah komponen yg sangat besar digunakan di kebun, 40% biaya perawatan adalah biaya pupuk. Ini harga pupuk naik ditambah rupiah melemah, ini menyebabkan biaya naik," ujar Eddy kepada Kontan.co.id, Minggu (1/11/2026).

Dengan demikian, pelemahan rupiah tidak otomatis membuat eksportir sawit menikmati tambahan keuntungan yang signifikan.

Sebab, kenaikan penerimaan dalam rupiah juga dibarengi peningkatan biaya produksi, terutama untuk kebutuhan pemupukan dan operasional perkebunan.

Menurutnya, dampak kenaikan biaya tersebut juga dirasakan perusahaan sawit yang berorientasi ekspor maupun yang penjualannya lebih banyak terserap di pasar domestik.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.180, Ini Dampaknya ke Pasar Saham & Strategi untuk Investor

"Perusahaan eksportir sama saja karena biaya angkutan dan asuransi naik akibat perang ditambah rupiah melemah," jelasnya.

Terkait alokasi produksi untuk kebutuhan ekspor dan domestik, Eddy menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas industri sawit nasional.

"Kalau produksi dalam negeri kan diutamakan, jadi porsinya sesuai kebutuhan dalam negeri semuanya terpenuhi," kata Eddy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×