kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.622.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 18.017   34,00   0,19%
  • IDX 6.181   -15,03   -0,24%
  • KOMPAS100 807   -4,37   -0,54%
  • LQ45 612   -2,78   -0,45%
  • ISSI 214   -0,34   -0,16%
  • IDX30 344   -1,62   -0,47%
  • IDXHIDIV20 426   -2,35   -0,55%
  • IDX80 92   -0,47   -0,50%
  • IDXV30 116   -0,52   -0,44%
  • IDXQ30 110   -0,73   -0,66%

Jembo Cable Company (JECC) proyeksi nilai pendapatan akan turun


Selasa, 09 Oktober 2018 / 19:14 WIB
ILUSTRASI. Pabrik Pembuatan Fiber Optic


Reporter: Eldo Christoffel Rafael | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Akibat nilai Rupiah yang terdepresiasi PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) proyeksi nilai pendapatan akan turun. Walaupun secara volume produksi terjadi peningkatan permintaan.

Awalnya tahun ini produsen kabel ini menargetkan pendapatan akan naik menjadi Rp 2,5 triliun. Atau naik 19,04% dari periode tahun 2017 menjadi Rp 2,18 triliun. Manajemen emiten berkode saham JECC di Bursa Efek Indonesia ini memprediksi secara nilai pendapatan akan turun mencapai 5% dibanding tahun lalu. Walaupun secara volume produksi tahun ini meningkat.

Sebagai informasi, saat ini perseroan memproduksi tiga jenis kabel di pabriknya yang berada di Tangerang, Banten. Saat ini kapasitas produksi kabel tembaga 10.000 ton per tahun. Untuk pabrik kabel aluminium mampu memproduksi 15.000 ton per tahun. Sedangkan untuk kabel fiber optic mencapai 2 juta kilometer single fiber per tahun.

Antonius Benady, PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) menjelaskan bahan baku seperti tembaga dan juga aluminium menggunakan pembeliannya meski dalam negeri masih menggunakan acuan harga Dollar Amerika Serikat (AS). Hingga Juni tahun ini, kenaikan bahan baku mencapai 13,7% year on year (YoY) bagi bahan baku tembaga serta sebesar 19,9% bagi produk aluminium.

Sedangkan tahun ini Jembo menerima kontrak pembelian kabel dengan perusahaan seperti PLN dan Telkom menggunakan acuan dolar senilai Rp 13.000. Per september 2018, penjualan ke PLN mampu menyumbang 40% dari total penjualan dan juga telkom menyumbang 10%. Sedangkan 30% penjualan ke distributor dan ke pasar bebas (free market) 20%.

"Sehingga harga jual terakhir tidak bisa kami naikkan untuk produk yang sudah kontrak di awal tahun dan akibatnya ada penurunan gross margin," kata Antonius pada acara Paparan Publik Perseroan di Bursa Efek Indonesia, Selasa (9/10).




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×