kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   40.000   1,50%
  • USD/IDR 16.942   25,00   0,15%
  • IDX 9.100   24,29   0,27%
  • KOMPAS100 1.259   2,84   0,23%
  • LQ45 890   0,86   0,10%
  • ISSI 331   1,17   0,36%
  • IDX30 454   1,72   0,38%
  • IDXHIDIV20 537   3,62   0,68%
  • IDX80 140   0,20   0,14%
  • IDXV30 148   1,16   0,79%
  • IDXQ30 146   0,52   0,36%

JW Marriott dan Ritz Carlton Kembali Dibuka Untuk Umum


Kamis, 30 Juli 2009 / 11:41 WIB
JW Marriott dan Ritz Carlton Kembali Dibuka Untuk Umum


Reporter: Nadia Citra Surya | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Setelah sempat berhenti beroperasi selama hampir dua minggu akibat ledakan bom, Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton telah kembali beroperasi.

"Kami mulai beroperasi mulai Rabu (29/7) pagi," ujar seorang staff front desk di JW Marriott. Hal senada diungkapkan bagian reservasi Ritz Carlton Mega Kuningan.

Seperti kita ketahui, kedua hotel bintang lima tersebut menjadi sasaran terorisme pada Jumat 17 Juli 2009 lalu. Dua bom meledak dalam waktu hampir bersamaan di area hotel tersebut, dan menewaskan setidaknya 9 orang termasuk tamu dan karyawan hotel.

Meski tidak bersedia membeberkan tingkat okupansi yang telah terjaring selama dua hari beroperasi, keduanya mengaku bahwa beberapa pengunjung sudah mulai datang.
Sementara itu, sejumlah satuan petugas dari Polri masih ikut membantu penjagaan di sekitar lokasi hotel. Pemeriksaan pun dilakukan dengan ketat bagi setiap kendaraan yang melintas.

Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Carla Parengkuan mengingatkan bahwa setiap proses pengamanan yang diberlakukan di semua hotel harus sesuai dengan SOP (Standard operational prosedur). "Tidak boleh kendur, harus terus diterapkan sesuai prosedur," tegas Carla.

Carla tidak menampik bahwa selama ini masih banyak pengelola hotel yang cenderung mengendur pengamanan, dan baru kembali disiplin setelah ada peristiwa yang menggemparkan itu. "Karena itu kami mengimbau agar SOP terus ditegakkan dengan disiplin, jangan up and down," ucapnya.

Untuk memulihkan tingkat kunjungan, berdasarkan pengalaman JW Marriott pertama, paling tidak dibutuhkan waktu setengah tahun untuk membersihkan nuansa traumatis baik dari pihak pengelola maupun pengunjung. "Namun, kami telah siap untuk segera bangkit," ucap Carla. "Bagaimana pun juga industri pariwisata kita telah ditempa bom Bali I dan II serta bom Marriott 2003," tandasnya getir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×