kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.799   18,00   0,11%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%

Kadin Indonesia Memetakan Risiko dan Peluang dari Eskalasi Konflik AS - Venezuela


Selasa, 06 Januari 2026 / 09:18 WIB
Kadin Indonesia Memetakan Risiko dan Peluang dari Eskalasi Konflik AS - Venezuela
ILUSTRASI. KADIN peringatkan pelaku industri tentang risiko harga energi, rantai pasok, dan investasi akibat ketegangan AS?Venezuela. (WARTAKOTA/Angga Bhagya Nugraha)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pelaku industri mencermati dinamika geopolitik pasca penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS).

Kadin memetakan sejumlah risiko dan peluang bagi dunia usaha Indonesia apabila eskalasi konflik berdampak ke rantai pasok dan harga komoditas global.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa menegaskan bahwa pelaku usaha perlu mencermati dengan serius setiap eskalasi geopolitik yang melibatkan negara produsen energi, termasuk ketegangan AS dengan Venezuela.

"Bukan semata pada peristiwa politiknya, tetapi implikasi lanjutan terhadap rantai pasok, harga komoditas, dan sentimen pasar internasional," ungkap Erwin kepada Kontan.co.id, Senin (5/1/2026).

Baca Juga: Impor BBM SPBU Swasta Mulai Berjalan, Kementerian ESDM Isyaratkan Kuota 2026 Naik 10%

Erwin menyoroti tiga dampak yang berpotensi hadir dari eskalasi konflik AS vs Venezuela. Pertama, volatilitas harga komoditas energi dan pangan. Sebab, ketidakpastian geopolitik dapat memicu spekulasi pasar, mendorong fluktuasi harga minyak, gas, dan produk turunannya. Pada akhirnya, risiko ini bakal berdampak pada biaya logistik dan produksi global.

Kedua, gangguan rantai pasok dan pembiayaan perdagangan. Konflik geopolitik seringkali berdampak pada sistem pembayaran internasional, asuransi pengiriman, dan akses pembiayaan. Hal ini berpotensi meningkatkan biaya transaksi perdagangan lintas negara.

Ketiga, perubahan arah kebijakan dagang dan investasi. "Ketegangan geopolitik biasanya diikuti oleh pengetatan kebijakan, sanksi ekonomi, atau realokasi investasi global ke negara yang dianggap lebih stabil," terang Erwin.

Erwin menjelaskan, Kadin Indonesia melihat dinamika geopolitik saat ini dari dua sisi, yakni risiko yang perlu diantisipasi serta peluang strategis. Dari sisi risiko, Erwin mengingatkan kenaikan harga energi dapat berdampak pada biaya produksi industri dan inflasi. 

Selain itu, volatilitas nilai tukar akibat sentimen global bisa mempengaruhi dunia usaha, terutama yang bergantung pada impor bahan baku. Di sisi yang lain, Kadin memandang Indonesia justru berpotensi menjadi alternatif tujuan investasi dan produksi di tengah upaya dunia usaha global mencari negara yang stabil secara politik dan ekonomi.

Baca Juga: Kementerian ESDM: Kebocoran Pipa Gas TGI Mengganggu Produksi Migas Rokan Awal 2026

Komoditas unggulan Indonesia seperti energi, mineral, dan pangan juga dapat memperoleh nilai tambah jika dikelola dengan kebijakan hilirisasi dan diversifikasi pasar ekspor. Kadin Indonesia pun mendorong pelaku usaha untuk mencermati tiga hal penting dalam mengantisipasi gejolak geo-politik pada awal tahun 2026 ini.

Pertama, memperkuat manajemen risiko geopolitik, termasuk diversifikasi pasar dan sumber bahan baku. Kedua, mengoptimalkan pasar domestik sebagai penyangga ketika pasar global bergejolak.

Ketiga, bersinergi dengan pemerintah agar kebijakan fiskal, perdagangan, dan energi tetap menjaga daya saing industri nasional di tengah ketidakpastian global. Erwin menegaskan, konflik geopolitik termasuk ketegangan AS dengan Venezuela saat ini lebih berdampak pada volatilitas jangka pendek.

Menurut Erwin, selama stabilitas domestik, kepastian kebijakan, dan daya beli masyarakat terjaga, agenda pertumbuhan 2026 masih relevan dan dapat dicapai. Erwin optimistis outlook secara umum tetap positif dan realistis, meskipun dengan asumsi kehati-hatian yang lebih tinggi

"Namun demikian, dunia usaha tentu menyesuaikan target dengan pendekatan yang lebih adaptif, tidak agresif berlebihan, tetapi juga tidak defensif," tandas Erwin.

Baca Juga: RKAB 2026 Belum Terbit, ESDM Ungkap Ada Penyesuaian Produksi Nikel Nasional

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia, Bobby Gafur Umar mengatakan sejauh ini ketegangan AS dengan Venezuela tidak berdampak secara langsung terhadap perdagangan dan industri Indonesia. Tetapi, perkembangan situasi ke depan akan tergantung dari reaksi dunia atas konflik AS dengan Venezuela.

Saat ini, pelaku industri cenderung memasang sikap wait and see, terutama mencermati dampak konflik terhadap dinamika harga komoditas energi.  "Jika pasar energi berfluktuasi dengan kenaikan harga minyak akibat suplai dari Venezuela terdampak, khususnya ke China, maka bisa memicu risiko yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi global," kata Bobby.

Selanjutnya: 30 Contoh Ucapan Selamat Kenaikan Pangkat untuk Anggota Polri

Menarik Dibaca: IHSG Lanjut Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Selasa (6/1)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×