kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Kalla: Jadi pejabat Bulog banyak tekanan


Senin, 15 Oktober 2012 / 11:35 WIB
Kalla: Jadi pejabat Bulog banyak tekanan
ILUSTRASI. Obat herbal vertigo perlu Anda konsumsi secara rutin supaya efeknya terasa.


Reporter: Nur Ramdhansyah A | Editor: Edy Can

JAKARTA. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengungkapkan, pimpinan Badan Urusan Logistik (Bulog) selalu mendapat tekanan. Di saat harga pangan naik, Kalla bilang masyarakat selalu marah kepada Bulog. Sebaliknya, begitu harga gabah murah, giliran Bulog mendapat semprotan dari petani.

Karena itu, Kalla meminta Bulog dan Kementerian Pertanian memperbaiki diri supaya tidak memperoleh komentar miring. "Masa masih kalah sama para petani. Petani itu jam 5 subuh sudah berangkat ke ladang untuk mencangkul. Beda halnya dengan lembaga yang ada di sini, jam 5 subuh belum ada kegiatan," ujarnya dalam sambutan acara peluncuran buku mantan Direktur Utama Bulog Mustafa Abubakar, Senin (15/10).

Saat menjabat sebagai wakil presiden, Kalla mengaku pernah mengancam Bulog dan Kementerian Pertanian supaya melakukan swasembada beras. Kalla menyampaikan ancaman itu pada 2008 silam. "Jika Indonesia tidak swasembada beras maka saya akan menjual gedung-gedung pertanian itu. Akhirnya jadi juga swasembada," katanya yang langsung disambut tawa para hadirin.

Sesudah tak menjabat sebagai presiden, Kalla mengaku swasembada pangan belum terjadi lagi. Dia menilai produksi beras bahkan turun. "Bukannya saya sombong tapi memang demikian. Ketika saya turun, turun juga produksi berasnya," ucapnya yang kembali disambut tawa lagi para hadirin.

Kendati produksi beras turun, Kalla tetap meminta Bulog dan Kementerian Pertanian mengurangi impor. Dia menilai peluang produksi beras Indonesia sangat besar. "Jadi harus dipikir ulang lagi," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×