Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menyiapkan sejumlah strategi untuk mengembangkan lini bisnis panel surya. DSSA melirik peluang dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang sedang gencar dibangun oleh PT PLN (Persero).
Pada semester I-2026 ini, PLN menyiapkan 21 proyek PLTS dan PLTS + Battery Energy Storage System (BESS). Proyek ini tersebar di tujuh provinsi dengan total kapasitas mencapai 513 Megawatt Peak (MWp), yang ditargetkan bisa beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada 2026 - 2029.
PLTS dan BESS juga menjadi andalan PLN untuk menjalankan program penggantian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) atau dedieselisasi.
PLN bakal mengganti 2.396 unit PLTD di 741 lokasi. PLN memproyeksikan kebutuhan PLTS sebesar 3,21 Gigawatt Peak (GWp) untuk mengeksekusi program dedieselisasi.
Baca Juga: APTRI Tolak Rencana Alih Impor Gula ke BUMN, Khawatir Picu Monopoli & Kenaikan Harga
Wakil Presiden Direktur Dian Swastatika Sentosa, Lokita Prasetya memandang program tersebut sebagai peluang strategis untuk memperkuat posisi DSSA dalam peta jalan dekarbonisasi dan infrastruktur energi masa depan. Melalui PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI) yang merupakan produsen sel dan modul surya terintegrasi, DSSA menyatakan siap mendukung kebutuhan infrastruktur bagi program tersebut.
"Investasi pada lini produksi panel surya melalui TMAI merupakan langkah nyata DSSA dalam melakukan diversifikasi bisnis ke sektor teknologi hijau, yang sekaligus berfungsi sebagai pilar pendukung bagi pengembangan ekosistem digital dan industri berkelanjutan," kata Lokita kepada Kontan.co.id, Senin (20/4/2026).
Sekadar mengingatkan, TMAI merupakan perusahaan patungan atau joint venture antara PT Daya Sukses Makmur Selaras selaku anak usaha DSSA, Trina Solar Co. Ltd, serta PT PLN Indonesia Power Renewables. TMAI memiliki pabrik sel dan modul surya terintegrasi dengan nilai investasi lebih dari Rp 1,5 triliun.
Pabrik yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Jawa Tengah ini telah resmi beroperasi pada Juni 2025. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi sebesar 1 GW per tahun, yang setara dengan produksi sekitar 1,4 juta lembar panel surya per tahun.
Produk yang dihasilkan menggunakan teknologi i-TOPCon (N-type) dengan efisiensi tinggi mencapai lebih dari 23% dan daya output hingga 720 watt-peak per unit.
Baca Juga: Target Ekspor Kopi 2026 Hanya 360.000 Ton, Ini Penyebabnya
Lini produksi ini juga telah memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 50%, sehingga kompetitif untuk mendukung proyek-proyek energi nasional.
"Sejalan dengan visi industri hijau, DSSA berharap Pemerintah terus mendukung manufaktur lokal dengan mengutamakan penggunaan produk dalam negeri dibandingkan impor. Sinergi ini penting untuk memperkuat ekosistem industri, menarik investasi serta mempercepat kemandirian energi nasional melalui potensi lokal yang andal," ujar Lokita.
Lirik Potensi di Pasar Domestik
Target jangka pendek TMAI adalah fokus pada optimalisasi operasional pabrik di KEK Kendal guna memastikan kapasitas produksi 1 GW per tahun terserap secara maksimal oleh berbagai proyek nasional. Dalam jangka panjang, TMAI telah menyusun rencana pengembangan bisnis secara vertikal melalui penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir.
"Rencana ini mencakup penjajakan pengembangan komponen inti seperti ingot dan wafer secara mandiri, yang bertujuan untuk memperkuat kemandirian industri nasional dan meningkatkan daya saing komponen lokal," kata Lokita yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur TMAI.
Lokita menambahkan, strategi penjualan saat ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pasar domestik, dengan menyasar sektor utilitas melalui penyediaan modul surya untuk proyek-proyek strategis PLN.
Selain itu, DSSA juga melirik segmen pelanggan dari sektor komersial dan industri yang mengadopsi penggunaan PLTS Atap untuk kebutuhan di lokasi operasionalnya.
Lokita belum merinci mengenai kontrak kerja sama atau kontribusi TMAI dalam proyek PLTS yang digagas oleh PLN. Begitu pun mengenai peluang lelang pengadaan panel surya yang akan diikuti oleh TMAI.
Lokita hanya menegaskan bahwa TMAI secara aktif menjajaki berbagai peluang kolaborasi strategis serta memperkuat sinergi dengan para pemangku kepentingan, termasuk PLN.
"Perusahaan optimistis dapat memberikan kontribusi signifikan sebagai mitra penyedia teknologi hijau yang andal dalam setiap momentum kerja sama di masa mendatang," tandas Lokita.
Selain melalui TMAI, DSSA juga menggarap bisnis energi surya lewat PT Daya Mas Agra Sejahtera yang menawarkan sistem tenaga surya atap (rooftop solar PV) untuk sektor industri dan komersial. Di lini bisnis energi baru & terbarukan (EBT) lainnya, DSSA mengembangan panas bumi.
Melalui PT Daya Sentosa Sakti Renewables, DSSA tengah mengembangkan tiga proyek panas bumi yang berlokasi di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur, dengan target operasi komersial pada tahun 2029.
Proyek panas bumi ini berlokasi di Cipanas dengan potensi pengembangan hingga 55 MW, Cisolok (45 MW) dan Nage (40 MW).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Energi Terbarukan
- PLN
- Plts
- panel surya
- Pembangkit Listrik Tenaga Surya
- Dian Swastatika Sentosa
- DSSA
- Investasi Energi
- Kawasan Ekonomi Khusus Kendal
- Proyek Energi Hijau
- lokita prasetya
- kapasitas produksi panel surya
- Panas Bumi DSSA
- Dedieselisasi
- PLTD
- Trina Mas Agra Indonesia
- TMAI
- TKDN Panel Surya
- Bisnis Panel Surya Indonesia
- i-TOPCon N-type













