kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.840.000   -44.000   -1,53%
  • USD/IDR 17.174   -32,00   -0,19%
  • IDX 7.594   -39,89   -0,52%
  • KOMPAS100 1.050   -4,57   -0,43%
  • LQ45 756   -3,02   -0,40%
  • ISSI 275   -1,90   -0,69%
  • IDX30 401   -1,97   -0,49%
  • IDXHIDIV20 490   -0,83   -0,17%
  • IDX80 118   -0,43   -0,36%
  • IDXV30 138   -1,24   -0,89%
  • IDXQ30 129   -0,39   -0,30%

Target Ekspor Kopi 2026 Hanya 360.000 Ton, Ini Penyebabnya


Senin, 20 April 2026 / 18:31 WIB
Target Ekspor Kopi 2026 Hanya 360.000 Ton, Ini Penyebabnya
ILUSTRASI. ekspor biji kopi


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) menargetkan ekspor kopi nasional sepanjang 2026 dapat mencapai 330.00-360.000 ton bijih kopi atau sekitar 5 juta hingga 5,5 juta karung, dengan asumsi satu karung berisi 60 kilogram kopi.

Ketua Departemen Specialty & Industri BPP AEKI, Moelyono Soesilo mengatakan ekspor kopi tahun ini masih cukup optimis di tengah gejolak geopolitik ditambah dengan potensi peningkatan produksi kopi dari negara tetangga, Vietnam.

“Potensi ekspor kopi Indonesia tetap tinggi karena ada kondisi permintaan dari kopi Indonesia yang jenisnya tidak bisa tergantikan oleh negara produsen lain. Untuk tahun ini (ekspor) mungkin di level 330.000-360.000 ton,” ungkap Moelyono kepada Kontan, Senin (20/04/2026).

Baca Juga: KCI Sebut Belum Ada Pembahasan soal Kenaikan Tarif Commuter Line

Meski begitu, jika dibandingkan dengan volume ekspor kopi Indonesia sepanjang tahun 2025, target tahun ini justru menurun, yaitu mencapai 508.800 ton, meningkat 62,61% (yoy) dengan nilai ekspor mencapai US$ 2,50 miliar.

Disamping itu, krisis energi, khususnya untuk pasokan bahan baku pupuk yaitu ammonia dan sulfur yang masih bergantung pada produsen di timur tengah menurut AEKI juga akan berdampak pada meningkatnya biaya produksi kopi tahun ini.

“Pada akhirnya akan terkena dampaknya, salah satu komponen yaitu harga pupuk yang meningkat, dan pada akhirnya biaya produksi juga meningkat,” tambahnya.

Selain peningkatan biaya pupuk, produksi kopi nasional pada tahun ini diproyeksikan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi cuaca menjadi faktor utama yang mempengaruhi hasil panen di sejumlah daerah sentra kopi.

Adapun terkait negara tujuan, ekspor kopi Indonesia mayoritas masih akan tertuju pada pasar Amerika, Mesir, Malaysia, Jerman, dan Italia.

Sebagai tambahan, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kopi Indonesia pada tahun 2025 mencapai US$1,87 miliar, naik 81,08% dari tahun 2024. Beberapa negara yang rutin menjadi target ekspor kopi Indonesia sejak 2024 di antaranya Amerika Serikat yang meraup 18,77% dari total ekspor, selanjutnya Mesir (8,70%), Malaysia (7,96%), dan Belgia (7,06%).

Baca Juga: Insentif Mobil Listrik Dipangkas, Penjualan Terancam Melambat

Sedangkan pada periode Januari-Oktober 2025, surplus neraca perdagangan kopi Indonesia tercatat mencapai US$ 2,32 miliar. Berdasarkan negara tujuan ekspor utama, paling besar ditujukan ke Filipina dengan pangsa pasar 11,7 persen, diikuti oleh Amerika Serikat 10,6 persen, Belgia 9,2 persen, Jerman 8,6 persen, dan Malaysia 6,1 persen.

Peningkatan Kualitas Bijih Kopi Lewat Traceability

Adapun, terkait persaingan ekspor bijih kopi tahun ini, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan Indonesia juga perlu menekankan pada traceability, agar produk-produk kopi dapat lebih diterima di pasar internasional.

Traceability lahan kopi adalah sistem ketertelusuran yang mendokumentasikan perjalanan biji kopi dari hulu ke hilir—mulai dari petani, lokasi kebun, proses pascapanen, hingga eksportir/konsumen.

“Soal tracebility atau ketelusuran ini penting, dimana lahan kopi harus dipastikan dari lahan yang restorative, artinya tidak memicu sengketa atau kerusakan alam, semacam. Sehingga yang di jual bukan hanya kualitas premium, tapi sertifikasi dari sumber kopinya, ini juga membantu masuk ke pasar yang lain,” ujar Bhima.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian terbaru pada akhir awal 2026, total luas areal perkebunan kopi di Indonesia mencapai sekitar 1,27 juta hektar. Meskipun angka total luas lahan cukup besar, traceability (keterlacakan) lahan kopi secara spesifik untuk memenuhi standar internasional, seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR), masih dalam tahap akselerasi.

Adapun dengan persaingan dengan Vietnam, CELIOS melihat karakteristik atau jenis kopi yang dimiliki Indonesia lebih beragam, sehingga terdapat peluang memenangkan pasar.

Baca Juga: Tarif 0% ke AS Dongkrak Daya Saing, Industri Kopi Soroti Produksi yang Stagnan

“Sebenarnya bisa dimaksimalkan dengan adanya pelemahan kurs Rupiah, ini akan membuat ekspor kita lebih kompetitif. Di 2026 ekspektasi harusnya mendorong lagi kopi populer, seperti gayo, toraja, bali. Sedangkan Vietnam itu mayoritas Robusta,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×