kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.504.000   16.000   0,64%
  • USD/IDR 16.743   36,00   0,22%
  • IDX 8.725   77,96   0,90%
  • KOMPAS100 1.201   7,76   0,65%
  • LQ45 849   2,62   0,31%
  • ISSI 314   5,12   1,66%
  • IDX30 437   0,17   0,04%
  • IDXHIDIV20 510   -0,25   -0,05%
  • IDX80 133   0,91   0,68%
  • IDXV30 140   0,61   0,44%
  • IDXQ30 140   -0,01   -0,01%

Kemendag Proyeksikan Ekspor 2026 Ditopang Sektor Manufaktur Berteknologi Tinggi


Jumat, 02 Januari 2026 / 11:21 WIB
Kemendag Proyeksikan Ekspor 2026 Ditopang Sektor Manufaktur Berteknologi Tinggi
ILUSTRASI. Neraca perdagangan Indonesia surplus 66 bulan berturut-turut (ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perdagangan (Kemendag) memproyeksikan ekspor Indonesia masih akan bertumbuh pada 2026. Kemendag memperkirakan sektor manufaktur berteknologi tinggi akan menjadi kontributor utama.

Seperti diketahui, sepanjang Januari–Oktober 2025, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 234,04 miliar, naik 6,96% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Peningkatan tersebut didorong ekspor nonmigas, terutama dari komoditas utama seperti minyak kelapa sawit (CPO), besi dan baja, serta produk elektronik,” ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan, Ni Made Kusuma Dewi kepada Kontan, Rabu (31/12/2025).

Baca Juga: Minat Investor Dorong Penjualan Properti Komersial Jababeka (KIJA) Bizpark

Untuk 2026, Dewi mengatakan kinerja ekspor Tanah Air akan didukung kebijakan yang fokus pada peningkatan nilai tambah produk, efisiensi biaya, diversifikasi pasar, serta percepatan pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional.

Terkait sektor, Kemendag menilai industri otomotif serta elektronik menengah hingga tinggi relatif tangguh tahun ini.

“Sektor ini didukung oleh kapasitas produksi yang kuat dan keterintegrasian dalam rantai pasok regional, khususnya melalui pemanfaatan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP),” terang Dewi.

Di sisi lain, Dewi mengungkap, sejumlah produk primer juga diperkirakan masih berpotensi mengalami peningkatan ekspor seiring dengan kenaikan harga di pasar global. Misalnya batubara, CPO, produk perikanan termasuk udang, karet, serta produk logam seperti aluminium, tembaga, dan nikel.

Ia menambahkan, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook (WEO) Oktober 2025 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan mencapai 3,1%. Angka ini turun tipis dibanding proyeksi 2025 yang sebesar 3,2%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan naik 4,94%.

Baca Juga: Lampaui Target, Citilink Operasikan 37 Armada Hingga Akhir 2025

“Dengan asumsi harga komoditas non-energi meningkat sebesar 4,1%, harga energi menurun 3,7%, serta nilai tukar asumsi APBN sebesar Rp 16.500 per dolar Amerika Serikat (AS), kinerja ekspor Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap tumbuh,” imbuh Dewi.

Selanjutnya: Direktur Keuangan Kredit Plus Mengundurkan Diri

Menarik Dibaca: 5 Drakor Populer Sutradara Shin Won Ho, Garap Reply 1988 yang Legendaris

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×