Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksikan ekspor industri manufaktur pada tahun 2026 bisa menembus US$ 236 miliar. Sub sektor Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) bakal menjadi penopang utama.
Kemenperin memproyeksikan ekspor produk manufaktur dari sub sektor ILMATE akan mencapai US$ 99,58 miliar. Selanjutnya, ekspor dari sub sektor Industri Agro diproyeksikan sebesar US$ 68,62 miliar, sub sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) sebesar US$ 58,17 miliar serta dari sub sektor Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) sebesar US$ 9,63 miliar.
Dengan estimasi tersebut, Kemenperin memproyeksikan kontribusi ekspor produk manufaktur terhadap total ekspor nasional pada tahun ini akan mencapai 74,85%. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, proyeksi nilai ekspor industri manufaktur pada tahun 2026 menunjukkan level pertumbuhan yang moderat, yakni sebesar 1,45%,
Adapun, ekspor manufaktur atau Industri Pengolahan Non Migas (IPNM) hingga akhir tahun 2025 diproyeksikan mencapai US$ 232,61 miliar. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis kinerja ekspor produk manufaktur akan terus tumbuh, apalagi dengan adanya berbagai perjanjian dagang yang telah dan akan disepakati oleh pemerintah.
Baca Juga: ISSC Siap Bangun 100 Jembatan Bailey per Bulan, Gunakan Produk Baja Nasional
Agus mencontohkan perjanjian dagang antara Indonesia dengan Uni Eropa atau Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA), serta Indonesia dengan Eurasian Economic Union (I-EAEU). Perjanjian-perjanjian dagang ini akan membuka akses pasar yang lebih luas bagi ekspor produk manufaktur nasional.
"Ekspor menjadi bagian penting yang akan terus dikembangkan mencari pasar-pasar baru. Kita hampir menyelesaikan IEU-CEPA, itu merupakan target pasar yang luar biasa besar. Kita sudah menyelesaikan Indonesia-Eurasia, itu juga merupakan target pasar yang besar, yang akan membuat catatan ekspor semakin baik ke depan," ungkap Agus dalam konferensi pers, Rabu (31/12/2025).
Catatan Agus, output produk industri manufaktur nasional masih dominan terserap di pasar dalam negeri. Sebagai gambaran, sampai dengan kuartal III-2025, pasar domestik menyerap 78,39% dari produk manufaktur nasional. Sedangkan porsi ekspor sebesar 21,61%. Adapun, nilai output manufaktur nasional diproyeksikan mencapai Rp 8.381 triliun.
Agus menegaskan bahwa porsi ekspor bukan menjadi satu-satunya faktor yang menentukan kinerja dan kekuatan sektor manufaktur. Agus merujuk data World Bank yang memotret bahwa Indonesia memiliki Manufacturing Value Added (MVA) sebesar US$ 265,07 miliar pada tahun 2024.
Nilai tersebut menempatkan Indonesia pada posisi ke-13 dunia, dan berada di posisi teratas rangking MVA di Asia Tenggara. Agus menyoroti bahwa nilai MVA Indonesia jauh lebih unggul dibandingkan negara ASEAN lainnya, termasuk Thailand dan Vietnam dengan nilai MVA masing-masing US$ 128,04 miliar dan US$ 116,38 miliar.
"Manufaktur Indonesia kuat dan mapan dibandingkan dengan negara-negara lain yang bahkan dianggap oleh pengamat sebagai kekuatan besar dari manufaktur dunia. Negara-negara tertentu fokus pada ekspor mungkin karena pasar (dalam negeri) tidak sebesar Indonesia," tandas Agus.
Baca Juga: Pemangkasan Produksi Bijih Nikel 2026 Bakal Tingkatkan Impor Hingga 50 Juta Ton WMT
Selanjutnya: Promo Alfamart Paling Murah Sejagat 1-7 Januari 2026, Rinso-Mama Lemon Hemat Banyak
Menarik Dibaca: Promo Alfamart Paling Murah Sejagat 1-7 Januari 2026, Rinso-Mama Lemon Hemat Banyak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













