Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.175
  • EMAS709.000 -0,56%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Kementerian ESDM sebut defisit sektor migas karena naiknya harga minyak mentah

Senin, 17 September 2018 / 17:51 WIB

Kementerian ESDM sebut defisit sektor migas karena naiknya harga minyak mentah
ILUSTRASI. Ilustrasi Opini - Skema Baru Lelang Blok Migas

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data defisit sektor migas. Pada Agustus 2018, defisit perdagangan migas sebesar US$ 1,66 miliar atau naik dari Juli 2018 yang hanya sebesar US$ 1,22 miliar. Sementara pada Agustus 2017, defisit migas hanya sebesar US$ 777,6 juta.

Sepanjang tahun ini, neraca sektor migas memang mengalami defisit. Dari Januari-Agustus 2018, BPS mencatat defisit neraca sektor migas mencapai US$ 8,35 miliar. Dalam periode yang sama tahun lalu, defisit perdagangan sektor migas mencapai US$ 5,39 miliar.


Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan tidak menampik defisit neraca migas. Menurutnya defisit neraca migas dipengaruhi oleh tingginya harga minyak mentah dunia. Apalagi produksi minyak mentah Indonesia tidak bisa memenuhi kebutuhan minyak mentah dalam negeri sehingga dibutuhkan impor minyak mentah.

"Neraca perdagangan pasti minus karena harga impor minyaknya tinggi dan ekspornya juga tinggi. Tapi secara nilai pasti kalah. Indonesia Crude Price (ICP) kita sesuai asumsi APBN di awal 2018 sebesar US$ 48 per barel. Sekarang sudah sekitar ICP US$ 70 per barel," tegas Jonan pada Senin (17/9).

Secara umum, Jonan mengatakan kenaikan proyeksi penerimaan ini diakibatkan oleh meningkatnya harga komoditas. "Mayoritas kebanyakan akibat peningkatan harga komiditas, terutama minyak. Minerba juga naik banyak," ujar Jonan.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menambahkan, menurunnya ekspor minyak mentah Indonesia dipengaruhi oleh alih kelola blok-blok migas terminasi kepada Pertamina. Sementara untuk kenaikan impor minyak mentah dipengaruhi oleh kegiatan ekonomi yang lebih baik.

"Ekspor turun iya, karena ada blok yang tadinya milik asing sekarang punya Pertamina. Kedua, penurunan produksi 30.000 barel oil per day. Harusnya impor turun, tapi naiknya impor tersebut karena karena ada kegiatan ekonomi yang naik," urai Arcandra.

 


Reporter: Febrina Ratna Iskana
Editor: Yoyok
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0533 || diagnostic_web = 0.2818

Close [X]
×