Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan Pajak Air Tanah (PAT) hingga 120% di Kabupaten Bogor mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan industri tekstil. Usaha laundry kiloan serta makanan dan minuman rumahan menjadi sektor yang paling rentan karena sangat bergantung pada air tanah.
Pemkab Bogor melalui Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 51 Tahun 2025 tentang Nilai Perolehan Air Tanah menetapkan tarif air tanah Rp3.300 per meter kubik, naik dari sebelumnya Rp1.500 per meter kubik.
Kementerian UMKM dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengaku baru mengetahui persoalan tersebut. Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM, Alli, mengatakan pihaknya akan mengecek dampak kenaikan PAT sebelum membahasnya dengan Kementerian ESDM. “Kalau memang banyak yang tertekan dampak kenaikan Pajak Air Tanah ini, kami akan bicarakan dengan Kementerian ESDM,” ujar Alli dalam keterangannya dikutip Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Biaya Admin E-Commerce Dipangkas 50%, Ini Strategi UMKM Dongkrak Cuan
Ia meminta pelaku UMKM Bogor menyampaikan keluhan secara tertulis dan kolektif kepada Kementerian UMKM agar dapat ditindaklanjuti bersama kementerian terkait. Menurutnya, jika kenaikan PAT menjadi beban biaya yang signifikan, pemerintah akan mencari solusi agar kebijakan tersebut tidak semakin menekan pelaku UMKM di Kabupaten Bogor.
Senada, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin Taufiek Bawazier meminta pelaku industri yang terdampak kenaikan Pajak Air Tanah (PAT) mengirimkan laporan kepada Kemenperin. Data tersebut akan menjadi bahan pembahasan dengan Kementerian ESDM untuk mempertanyakan besaran kenaikan PAT.
Ketua Apindo Kabupaten Bogor Rizal Supari Abdul Hayi menilai kenaikan PAT terjadi pada waktu yang kurang tepat. Pengusaha juga menghadapi kenaikan upah, PBB, harga gas dan plastik, serta ketidakjelasan sejumlah regulasi. “Beban pengusaha itu menjadi sangat berat, dan semakin berat lagi jika harus menanggung kenaikan PAT ini,” ujar Rizal dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Kemendag Dorong Percepatan UMKM Masuk Ritel Modern, Begini Strateginya
Pemilik usaha telur asin Siragilkaizer di Cibinong, Nur Azizah, mengatakan air merupakan bagian penting dalam produksi. Kenaikan PAT pun berpotensi mengerek biaya produksi dan harga jual, di tengah daya beli masyarakat yang melemah.
Saat ini telur asin dijual Rp 5.000 per butir untuk eceran dan Rp 3.500 - Rp 4.000 untuk reseller. Namun, penjualan terus turun. Jika sebelumnya bisa mencapai 1.000 butir per hari, kini 300 butir saja sulit dicapai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
