Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana integrasi koridor wilayah logistik melalui Jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC) yang disiapkan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang nasional.
Selama ini, arus logistik nasional masih bergantung pada jalan arteri yang bercampur dengan kendaraan pribadi, sehingga memicu kemacetan, memperpanjang waktu tempuh, dan meningkatkan biaya distribusi.
Dengan menghubungkan kawasan industri di timur Jakarta dan Jawa Barat menuju Pelabuhan Tanjung Priok, integrasi ini diharapkan mampu mengurangi beban jalan arteri, memangkas waktu tempuh, serta menekan biaya logistik.
Anggota BPJT dari unsur masyarakat, Tulus Abadi, mengatakan pemerintah tengah menyiapkan integrasi koridor wilayah logistik untuk mengoptimalkan jalur eksisting, meningkatkan konektivitas, dan mengurangi beban lalu lintas arteri.
Baca Juga: BPJT Matangkan Uji Coba MLFF, Penentuan Lokasi dan Jadwal Masih Digodok
JTCC memiliki peran strategis karena menghubungkan kawasan industri di timur Jakarta dan Jawa Barat dengan Pelabuhan Tanjung Priok. “Integrasi JTCC menjadi bagian dari pengembangan konektivitas yang lebih luas bersama sejumlah ruas tol lainnya,” kata Tulis dalam keterangannya dikutip Kamis (16/7/2026).
Sementara itu, sejumlah pakar dan pelaku logistik menilai keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada skema tarif, tetapi juga membutuhkan regulasi yang jelas sebagai dasar pelaksanaan.
Pengamat publik Agus Pambagio menilai regulasi yang jelas diperlukan untuk mengatur koordinasi antar Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dalam penerapan integrasi koridor logistik. Menurutnya, kepastian aturan dan pengawasan yang baik menjadi kunci agar integrasi berjalan konsisten dan efektif.
Agus menyebut integrasi tarif jalan tol sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan memudahkan pengguna, karena masyarakat tidak perlu membayar berulang kali saat melintasi beberapa ruas tol. Namun, ia menegaskan pengawasan harus diperkuat agar pelaksanaannya berjalan optimal.
"Integrasi memang harus dilakukan supaya pengguna tidak perlu bayar berkali-kali dan sistemnya lebih mudah. Yang lebih penting lagi, pengawasannya harus berjalan agar implementasinya benar-benar efektif," tandasnya.
Baca Juga: Tarif 52 Ruas Jalan Tol Berpotensi Naik Tahun Ini
Dari sisi industri, Sekretaris Jenderal ALFI Institute, Trismawan Sanjaya, menilai kepastian regulasi merupakan faktor penting bagi pelaku logistik dalam menyusun strategi distribusi dan perencanaan usaha. Menurutnya, regulasi yang ditetapkan lebih awal akan memberikan kepastian bagi industri dalam mengambil keputusan bisnis.
Ia juga menyebutkan bahwa integrasi tarif jalan tol yang mendukung kegiatan logistik dapat menjadi sinyal positif bagi dunia usaha karena menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan efisiensi logistik dan memperbaiki iklim investasi.
Trismawan menjelaskan bahwa sistem tarif yang masih terpisah-pisah berpotensi meningkatkan biaya logistik, sedangkan tarif yang terintegrasi akan memberikan lebih banyak pilihan rute bagi pelaku usaha sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap sektor logistik.
Apabila diterapkan secara optimal, integrasi koridor logistik dapat memperkuat peran JTCC sebagai penghubung kawasan industri dengan Pelabuhan Tanjung Priok. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi distribusi, menekan biaya logistik, memperkuat rantai pasok nasional, serta meningkatkan daya saing produk Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
