Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - BANTEN. Berkecimpung di industri yang menerima harga gas bumi tertentu (HGBT), PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) turut terdampak gangguan pasokan gas yang terjadi sejak akhir 2025 hingga awal tahun ini.
Chief Operating Officer Arwana Citramulia, Edy Suyanto menjelaskan, frekuensi gangguan pasokan gas sebagai komoditas krusial bagi industri keramik makin sering terjadi.
“Contohnya, Agustus tahun lalu, di Jawa Barat itu sempat terjadi gangguan gas. Di mana, tekanan atau pressure gas sampai ke pabrik sudah terlalu minim, bahkan nol, sehingga tidak bisa dipakai untuk produksi,” katanya usai paparan publik di Cikande, Banten, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Strategi Arwana Citramulia (ARNA) Kejar Pendapatan Tumbuh 17% pada 2026
Akibat hambatan tersebut, Edy menyebut tiga perusahaan yang merupakan anggota Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) pun terpaksa merumahkan pekerjanya.
Juga belum lama ini, pada Januari dan Maret 2026 sejumlah pabrik di Jawa Timur tak bisa berproduksi akibat gangguan pasokan gas berhari-hari. “Karena itu, tentu hal ini mengganggu produktivitas produksi industri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Edy mengatakan HGBT yang dikenakan kepada industri sebesar US$ 7 per MMBTU. Namun, para pengusaha keramik juga perlu membayar lebih mahal untuk harga regasifikasi apabila pemakaian gas melebihi alokasi gas industri tertentu (AGIT) alias kuota gas murah HGBT.
“Di tahun 2025, itu berada di angka US$ 15,34 per MMBTU. Tahun ini juga kurang lebih sama. Sehingga apa yang kami rasakan? Hari ini, pabrik yang berada di Jawa Barat, sudah membayar gas 50% lebih mahal daripada harga HGBT yang US$ 7 per MMBTU,” terang Edy.
Ia merincikan, mayoritas para pengusaha di Jawa Barat telah merogoh kocek sebesar US$ 10,2–10,6 per MMBTU.
Baca Juga: Asaki: Pasokan Gas Hingga Serbuan Impor Menekan Industri Keramik pada Awal 2026
“Sehingga, permasalahan gas hari ini sudah mengganggu daya saing industri keramik. Gangguan gas juga membuat utilisasi kapasitas produksi nasional ini tidak bisa sesuai target yang kita inginkan,” tegas Edy.
Ia turut menyoroti bahwa bagi pelaku industri keramik, biaya produksi terbesar terletak di biaya energi.
Saat awal pelaksanaan HGBT pada tahun 2020-2022, Edy bilang realisasi pasokan gas yang mencapai 90%–95% dengan harga US$ 6 per MMBTU sempat menurunkan porsi biaya energi menjadi 27%–28% dari sebelumnya 30%.
Sebagai perbandingan, komponen biaya gas atau energi saat ini sudah naik mencapai 36%–38% dari total biaya produksi.
Baca Juga: Target Industri Keramik Tahun 2026: Utilisasi 80%, Volume Produksi 537 Juta M²
Edy pun menegaskan bahwa industri keramik berbeda dengan industri manufaktur lainnya, sebab industri ini tak memiliki energi distribusi lain selain gas bumi.
“Dengan tingkat pembakaran pada suhu tinggi mencapai 1.000–1.200 derajat (Celsius), memang satu-satunya sumber energi yang paling tepat adalah gas bumi,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













