Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina (Persero) berkomitmen untuk mempercepat pengembangan ekosistem energi dan mobilitas berkelanjutan untuk mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia tahun 2060. Langkah ini dilakukan melalui berbagai inisiatif transisi energi yang terintegrasi di sektor transportasi nasional.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono menyatakan bahwa Pertamina mengambil peran aktif dalam transisi energi jangka panjang melalui kesiapan teknologi, penguatan ekosistem, serta sinergi lintas sektor. Strategi ini mencakup sektor transportasi darat, laut, serta penerbangan atau sektor udara.
Di sektor transportasi darat, Pertamina memperkuat ekosistem kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) melalui pembangunan charging station dan battery swapping bersama Indonesia Battery Corporation (IBC). Selain itu, Pertamina juga sedang membangun pabrik bioetanol terintegrasi di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur.
Baca Juga: PGN (PGAS) Dorong Pengembangan Amonia Rendah Karbon, Garap Studi Ekosistem CCS
Proyek ini menyatu dengan kawasan perkebunan tebu lokal untuk menjamin pasokan bahan baku secara berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan energi domestik. Sementara di sektor transportasi laut, Pertamina mendorong efisiensi energi melalui pemanfaatan dual fuel, pengembangan green ammonia, hingga inovasi pemasangan panel surya di dek kapal untuk mendukung kebutuhan kelistrikan armada secara mandiri.
Kemudian pada sektor transportasi udara, Pertamina melalui Pelita Air turut mendukung penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bahan bakar ramah lingkungan ini memanfaatkan bahan baku used cooking oil atau minyak jelantah, yang menjadi solusi konkret pengurangan emisi karbon di industri aviasi global.
"Upaya ini kami arahkan untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060, sebagaimana menjadi komitmen kuat Pemerintah Indonesia," kata Agung melalui rilis yang disiarkan pada Jumat (22/5/2026).
Agung memaparkan berbagai strategi tersebut dalam acara Studium Generale Sustainability bertajuk “Global Insights for Local Action: Bridging Academia and Industry in Energy Transition”.
Agenda yang diselenggarakan oleh Universitas Pertamina pada Kamis (21/5/2026) ini menjadi wadah kolaborasi antara dunia akademik dan industri dalam mendorong pengembangan solusi menuju pembangunan rendah karbon dan mobilitas berkelanjutan di Indonesia.
Dalam forum tersebut, Acting Rector Universitas Pertamina, Djoko Triyono, menegaskan bahwa transisi energi membutuhkan kolaborasi erat antar pemangku kepentingan agar mampu menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan nasional.
Djoko menyoroti kolaborasi erat antara akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat dibutuhkan untuk menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan lokal.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga dan Medco E&P Teken Jual - Beli Gas dari WK Sakakemang
“Transisi energi tidak dapat dijalankan sendiri oleh industri maupun pemerintah. Universitas Pertamina berkomitmen menjadi jembatan yang menghubungkan riset, inovasi, pengembangan SDM, dan aksi nyata guna mendukung terciptanya ekosistem energi berkelanjutan di Indonesia,” ujar Djoko.
Sementara itu, Guru Besar dari University of Southern California (USC) Sol Price, Marlon Boarnet, memaparkan bahwa dunia saat ini sedang berada di fase awal transformasi mobilitas hijau. Komoditas seperti biofuel dan drop-in fuels memegang peran sangat krusial sebagai jembatan transisi.
Sedangkan untuk sektor yang lebih sulit didekarbonisasi seperti pelayaran laut, dibutuhkan solusi energi dengan kerapatan (densitas) tinggi seperti green ammonia. Marlon juga mengingatkan bahwa transisi energi bukan lagi sekadar masalah kepatuhan terhadap regulasi, melainkan sudah menjadi transformasi industri global yang wajib dihadapi lewat kolaborasi erat.
Merespons berbagai dinamika global tersebut, Agung menegaskan bahwa Pertamina berkomitmen untuk terus mempertajam scenario planning dan strategi transformasi bisnisnya.
"Seluruh proses transformasi ini akan dijalankan secara terencana, bertahap, dan berkelanjutan demi menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi masa depan," tandas Agung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Bioetanol
- Minyak Jelantah
- Pelita Air
- Pertamina
- IBC
- kendaraan listrik
- charging station
- dekarbonisasi
- transisi energi
- Indonesia Battery Corporation
- Net Zero Emission
- green ammonia
- EV
- Sustainable Aviation Fuel
- Battery Swapping
- NZE 2060
- SAF
- mobilitas berkelanjutan
- transportasi ramah lingkungan
- Ekosistem Energi













