kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.032   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.236   49,76   0,80%
  • KOMPAS100 817   5,56   0,69%
  • LQ45 621   2,39   0,39%
  • ISSI 215   1,38   0,65%
  • IDX30 350   1,18   0,34%
  • IDXHIDIV20 430   0,35   0,08%
  • IDX80 93   0,50   0,54%
  • IDXV30 118   0,33   0,28%
  • IDXQ30 112   0,18   0,16%

Kinerja Semester I-2026 Turun, Bumi Resource Minerals (BRMS) Ungkap Penyebabnya


Minggu, 02 Agustus 2026 / 15:28 WIB
Kinerja Semester I-2026 Turun, Bumi Resource Minerals (BRMS) Ungkap Penyebabnya
ILUSTRASI. PT Bumi Resources Minerals Tbk (Dok/BRMS)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengalami penurunan kinerja pada semester I-2026. Merujuk laporan keuangan yang terbit di Bursa Efek Indonesia, penjualan BRMS merosot 20,72% secara tahunan dari US$ 120,84 juta menjadi US$ 95,79 juta hingga Juni 2026.

Sejalan dengan itu, beban pokok penjualan BRMS terpangkas 16,94% menjadi US$ 40,39 juta. Hasil tersebut membuat laba bruto BRMS menyusut 23,29% dari US$ 72,21 juta menjadi US$ 55,39 juta.

Setelah dijumlah dengan beban usaha senilai US$ 23,44 juta, BRMS mengantongi laba usaha sebesar US$ 31,95 juta pada semester I-2026 menurun 36,31% dibandingkan raihan US$ 50,17 juta pada semester I-2025.

Baca Juga: Pasar SUV PHEV Kian Menarik, Produsen Perluas Portofolio Mobil Listrik

BRMS membukukan laba neto periode berjalan senilai US$ 13,28 juta pada semester I-2026 merosot 40,34% dibandingkan perolehan laba US$ 22,26 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Secara bottom line, BRMS meraih laba bersih senilai US$ 12,92 juta pada semester I-2026. Keuntungan BRMS menyusut 43,75% (yoy) dibandingkan laba neto yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 22,97 juta pada semester I-2025.

Direktur Utama & Chief Executive Officer Bumi Resources Minerals, Agus Projosasmito membeberkan tiga faktor yang  berkontribusi terhadap penurunan kinerja BRMS. Pertama, penurunan produksi. Pada semester I-2026, volume produksi emas BRMS tercatat sebanyak 21.091 ounce (oz) atau setara dengan 656 kilogram (kg). 

Jika dirinci, BRMS memproduksi emas sebanyak 14.790 oz (460 kg) pada kuartal I-2026 dan 6.301 oz (196 kg) pada kuartal II-2026. Total volume produksi emas BRMS lebih rendah dibandingkan realisasi semester I-2025, yang kala itu tercatat sebanyak 38.993 oz (1.213 kg).

Produksi perak BMRS juga mengalami penurunan, dari 109.728 oz (3.413 kg) pada semester I-2025 menjadi 44.258 oz (1.377 kg) pada semester I-2026. BRMS memproduksi perak sebanyak 41.043 oz (1.277 kg) pada kuartal I-2026 dan 3.215 oz (100 kg) pada kuartal II-2026.

Agus menyoroti penurunan produksi selama operasi pushback di lokasi tambang River Reef di Poboya, Palu, Sulawesi Tengah.  Operasi pushback ini merupakan bagian dari kegiatan mining sequencing yang telah diantisipasi sebelumnya, serta sudah tiga kali diinformasikan kepada publik.

Baca Juga: Pedagang Online Protes Pajak Marketplace, Potongan Kini Tembus 30%

Agus menyatakan bahwa kegiatan pushback tersebut sudah difinalisasikan. BRMS pun telah mulai menambang di bukaan baru pada tambang terbuka sejak semester II-2026. "Oleh karenanya, produksi emas BRMS diharapkan akan meningkat di semester II-2026," kata Agus melalui keterangan tertulis yang disiarkan pada Jumat (31/7/2026) malam.

Faktor kedua yang menyebabkan penurunan kinerja BRMS adalah kendala dalam penjualan emas pada kuartal II-2026. BRMS menghadapai tantangan dalam menjual produksi emasnya pada kuartal II-2026 disebabkan oleh kondisi oversupply di pasar domestik. Pasalnya, banyak eksportir emas kini memilih untuk menjual emasnya ke pasar lokal.

Hal tersebut mengakibatkan kondisi oversupply di pasar domestik. Pembeli lokal pun mulai meminta harga diskon dalam pembelian emasnya. Oleh karena itu, hanya sekitar 70% dari produksi emas BRMS yang terjual ke pasar domestik pada kuartal II-2026.

Namun, Agus memberikan catatan bahwa pada akhir Juni 2026, anak usaha BRMS, PT Citra Palu Minerals, telah menandatangani perjanjian dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) untuk menjual sebagian besar produksi emasnya di harga yang cukup kompetitif kepada ANTM setiap bulannya. Perjanjian ini berlaku sampai dengan Juni 2028.

Ketiga, rata-rata harga jual komoditas emas mengalami penurunan secara kuartalan, dari US$ 4.512 per oz pada kuartal I-2026, menjadi US$ 4.138 per oz pada kuartal II-2026. Meski begitu, perlu dicatat bahwa rata-rata harga jual emas pada semester I-2026 mencapai US$ 4.400 per oz, jauh lebih tinggi dibandingkan semester I-2025, yang kala itu tercatat sebesar US$ 3.045 per oz.

Baca Juga: PPh Marketplace Berlaku, Pelaku Sebut Administrasi Jadi Tantangan Tahap Awal

Agus optimistis, BRMS bisa memperbaiki kinerja pada semester II-2026. Dia menambahkan, BRMS masih sesuai dengan jadwal untuk menyelesaikan peningkatan kapasitas di salah satu pabrik pengolahan dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari pada akhir tahun ini. 

"Kami yakin untuk dapat mengatasi kendala dan tantangan yang ada. Kinerja produksi dan keuangan kami diharapkan dapat membaik pada semester kedua tahun ini," tandas Agus.

Garap Proyek Tambang Bawah Tanah

Di sisi lain, BRMS sedang menggarap tambang bawah tanah melalui dua anak usahanya. BRMS berharap untuk mulai menambang bijih-bijih emas berkadar tinggi yakni 3,5 gram per ton (g/t) hingga 4,9 g/t dari area tambang bawah tanah pada semester kedua tahun depan.

Tambang emas dan perak tersebut dikelola oleh PT Citra Palu Minerals, dengan wilayah operasi di Sulawesi Tengah & Sulawesi Selatan. Director & Chief Investor Relations Officer Bumi Resources Minerals, Herwin Wahyu Hidayat mengungkapkan bahwa tambang tersebut memiliki kadar emas yang cukup tinggi di lokasi tambang bawah tanah, yakni dengan kadar di atas 3 g/t.

"Konstruksi tambang emas bawah tanah diharapkan dapat diselesaikan dan mulai beroperasi di semester kedua tahun 2027. Diharapkan produksi emas dapat meningkat di akhir 2027 atau awal 2028," ungkap Herwin kepada Kontan, beberapa hari lalu.

Selain tambang emas dan perak, BRMS juga siap menggarap proyek tambang bawah tanah seng dan timah hitam. Tambang yang berlokasi di Dairi, Sumatera Utara tersebut digarap oleh PT Dairi Prima Mineral (DPM). "Rencananya DPM akan memasuki tahap konstruksi pada akhir 2026 atau awal 2027 dan harapannya bisa mulai produksi pada awal 2029," ungkap Herwin. 

Baca Juga: Ini Daftar Harga Mineral Logam Acuan (HMA) di Periode Pertama Agustus 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×