kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.777.000   23.000   1,31%
  • USD/IDR 16.870   0,00   0,00%
  • IDX 5.968   -28,15   -0,47%
  • KOMPAS100 844   -3,39   -0,40%
  • LQ45 669   1,60   0,24%
  • ISSI 186   -0,64   -0,35%
  • IDX30 353   0,28   0,08%
  • IDXHIDIV20 432   5,08   1,19%
  • IDX80 96   -0,04   -0,04%
  • IDXV30 101   -0,42   -0,41%
  • IDXQ30 118   1,53   1,32%

KRI membiayai 70% pembangunan kilang dengan Iran


Selasa, 11 Februari 2014 / 20:01 WIB
KRI membiayai 70% pembangunan kilang dengan Iran
ILUSTRASI. Beberapa Gejala Hernia yang Terjadi Pada Bayi


Reporter: Ranimay Syarah | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Kerjasama investasi dengan Iran dimulai dengan pembangunan kilang bernilai US$ 3 miliar. Untuk kilang yang akan dibangun di Banten dan Jawa Barat ini, Indonesia akan memegang porsi mayoritas. 

Sekadar informasi, perusahaan migas asal Iran Nakhle Barani Pardis (NBP) Co. dan PT Kreasindo Resources Indonesia (PT KRI) yang akan berkolaborasi untuk membangun kilang dengan kapasitas 20.000 dan maksimal 300.000 barel per hari ini.

Rudy Radjab, Presiden Direktur PT KRI mengatakan, KRI akan menyediakan 70% kebutunan dana. Sedangkan NBP 30%. Setiap perusahaan bisa mencari kerjasama dengan siapa saja untuk memenuhi kebutuhan dana ini.

KRI misalnya, akan bekerjasama dengan perbankan asal China atau Eropa. "Yang jelas proyek ini tidak akan ada ikut campur uang negara. Ini memang kerjasama business to business. Kalau NBP, terserah dia mau dapatkan dana dari mana saja, " kata Rudy.

Dengan begitu, pendapatan akan lebih banyak masuk ke PT KRI. Di sisi lain, pengelolaan dana tanpa campur tangan pemerintah dirasa lebih fleksibel.

Peletakan baru pertama (ground-breaking) direncanakan dimulai pada 2015 mendatang. Sedangkan kilang ini ditargetkan beroperasi tahun 2018. Kawasan Banten dan Jawa Barat dipilih menjadi lokasi karena didukung oleh pasar yang besar di Jawa, serta infrastruktur yang tidak rumit, seperti adanya pelabuhan dan jaringan gas.

"Kalau soal pendanaan itu bisa satu tahun, dan setelah itu lanjut ke pembangunan Engineering, Procurement, and Construction (EPC) selama tiga tahun, yang bisa dipercepat," kata Rudy. Dia menambahkan, kapasitas kilang tidak pasti 300.000 barel per jam (bph), bisa jadi lebih banyak 350.000 bph.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

[X]
×