Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) melanjutkan tren pertumbuhan pada kuartal III-2026 dengan mencatatkan laba sebesar Rp 1,4 triliun, naik 9,8% secara tahunan (year-on-year/YoY). Selaras dengan itu, perolehan pendapatan DSNG juga tercatat mencapai Rp 9,1 triliun, meningkat 1,8% YoY.
Segmen kelapa sawit tetap menjadi kontributor utama laba Perseroan, dengan kontribusi sebesar Rp 8 triliun atau sekitar 88% dari total pendapatan.
“Kinerja positif pada kuartal ini banyak didukung oleh peningkatan harga jual rata-rata di hampir seluruh segmen bisnis, terutama produk-produk kelapa sawit. Selain itu, kebijakan deleveraging Perseroan turut memberikan kontribusi positif terhadap laba dengan semakin turunnya biaya keuangan,” jelas Andrianto Oetomo, Direktur Utama DSNG dalam keterangan resmi yang diterima, Jumat (30/10/2026).
Di tengah fenomena El Nino yang saat ini melanda Indonesia, khususnya di Kalimantan, perkebunan Perseroan ikut terdampak dengan menurunnya volume produksi tandan buah segar (TBS).
Baca Juga: Rupiah Melemah 12,5%, Biaya Produksi Industri Serat dan Benang Ikut Membengkak
Produksi TBS pada kuartal III-2026 tercatat mengalami penurunan sebesar 5% QoQ dari kuartal sebelumnya, sedangkan total produksi TBS hingga kuartal III-2026 sebesar 1,5 juta ton mengalami penurunan 4,3% YoY dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu, volume produksi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) mencapai 451 ribu ton, turun 1,5% YoY, dan volume produksi inti sawit (palm kernel/PK) tercatat sebesar 85 ribu ton, turun 1% YoY.
Hingga kuartal III-2026, Perseroan juga mencatatkan peningkatan oil extraction rate (OER) menjadi 23,73%. Kualitas CPO tetap terjaga, tercermin dari penurunan kadar asam lemak bebas (free fatty acid/FFA) menjadi 2,95%, dibandingkan 3,03% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kadar FFA ini mencerminkan kualitas CPO DSNG tetap premium. Pada segmen produk kayu, harga jual rata-rata yang baik belum sepenuhnya memberikan dampak signifikan terhadap kontribusi pendapatan Perseroan, seiring volume penjualan yang masih terbatas, khususnya pada produk engineered flooring.
Kondisi pasar di Eropa dan Amerika Utara yang masih lesu menyebabkan penyerapan produk engineered flooring belum optimal.
Di sisi lain, pasar Asia menunjukkan pemulihan secara bertahap, tercermin dari peningkatan volume penjualan produk panel kayu dari waktu ke waktu.
Sementara itu, pada segmen energi terbarukan, volume penjualan pelet kayu (wood pellet) meningkat 34% YoY yang juga diikuti dengan peningkatan harga jual rata-rata sebesar 3% YoY.
"Perkembangan ini mendukung peningkatan kontribusi segmen energi terbarukan terhadap kinerja perusahaan," tutup Andrianto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














