kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.546.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Rupiah Melemah, Industri Mamin Hadapi Tekanan Biaya Bahan Baku Impor


Jumat, 30 Oktober 2026 / 15:24 WIB
Rupiah Melemah, Industri Mamin Hadapi Tekanan Biaya Bahan Baku Impor
ILUSTRASI. Industri makanan dan minuman (Dok/Kemenperin)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menambah tekanan biaya produksi industri makanan dan minuman (mamin). Pasalnya, meski industri mengutamakan penggunaan bahan baku lokal, sejumlah komoditas utama masih bergantung pada pasokan impor.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, dampak pelemahan rupiah terhadap harga pokok produksi akan berbeda pada setiap perusahaan, bergantung pada porsi penggunaan bahan baku impor.

Sejumlah bahan baku industri mamin bahkan masih memiliki ketergantungan impor yang tinggi. Adhi menyebut, gula industri dan terigu masih sepenuhnya bergantung pada impor. Sementara itu, sekitar 70% kebutuhan garam industri dan kedelai masih dipenuhi dari impor. Ketergantungan impor susu mencapai 80%, sedangkan bahan baku plastik untuk kemasan sekitar 50%.

"Sebagian bahan baku memang masih tergantung impor, sehingga pelemahan rupiah sangat berdampak terhadap harga pokok. Namun, tergantung dari masing-masing industri, seberapa besar pemakaian bahan impornya," ujar Adhi kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Baca Juga: Industri Mamin Tumbuh 6,51%, Pasokan Gas dan Bahan Baku Masih Jadi Tantangan

Menurut Adhi, industri mamin skala besar umumnya masih memiliki daya tahan untuk menyerap kenaikan harga bahan baku. Namun, langkah tersebut berpotensi menekan perolehan laba perusahaan. Pelaku industri juga perlu mempertimbangkan kemampuan daya beli konsumen agar kenaikan biaya tidak seluruhnya diteruskan ke harga jual.

Tekanan lebih besar berpotensi dirasakan industri kecil dan menengah (IKM). Dengan kemampuan keuangan dan daya tahan persediaan yang lebih terbatas, IKM memiliki ruang yang lebih sempit untuk menahan kenaikan biaya produksi.

Adhi mengatakan, sebagian IKM pada akhirnya perlu menyesuaikan harga jual atau mengubah ukuran produk agar tetap dapat menjaga keberlangsungan usaha.

Di sisi lain, pelaku industri mamin masih melakukan evaluasi terhadap perkembangan biaya produksi hingga akhir tahun ini. 

Jika terdapat kenaikan harga jual, perusahaan perlu mendiskusikannya terlebih dahulu dengan distributor dan peritel untuk menentukan harga pada tahun depan.

"Kami biasanya akan evaluasi sampai akhir tahun dan bila ada kenaikan, harus didiskusikan dengan distributor dan retail untuk penentuan harga tahun depan," kata Adhi.

Baca Juga: Industri Mamin RI Hadapi Tantangan Ekspor, dari Geopolitik hingga Standar Global

Meski menghadapi tekanan biaya bahan baku, Gapmmi berharap industri mamin masih mampu mencatatkan pertumbuhan di atas 6% hingga akhir 2026.

Adhi menambahkan, industri terus mencari alternatif sumber bahan baku untuk mengurangi ketergantungan impor. Namun, upaya mencari pasokan dari dalam negeri tidak mudah dilakukan karena ketersediaan bahan baku lokal belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan industri.

Karena itu, ia menilai diperlukan strategi jangka panjang dari pemerintah untuk mendorong pengembangan sektor hulu agar pasokan bahan baku domestik semakin kuat dan mampu menopang kebutuhan industri mamin.

Baca Juga: Gapmmi Targetkan Industri Makanan dan Minuman (Mamin) Tumbuh 6,5% pada 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×