kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45935,34   -28,38   -2.95%
  • EMAS1.321.000 0,46%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Lautan Luas (LTLS) Alokasikan Capex Hingga Rp 300 Miliar di Tahun 2024


Senin, 05 Februari 2024 / 17:56 WIB
Lautan Luas (LTLS) Alokasikan Capex Hingga Rp 300 Miliar di Tahun 2024
ILUSTRASI. Mayoritas belanja modal Lautan Luas (LTLS) tahun ini akan digunakan untuk pembangunan gedung.


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Lautan Luas Tbk (LTLS) di tahun 2024 ini menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) berkisar antara Rp 200 miliar hingga Rp 300 miliar.

“Capex untuk tahun 2024 sekitar Rp 200 miliar hingga Rp 300 miliar yang dialokasikan untuk pembangunan gudang,” ungkap Investor Relation Manager LTLS, Eurike Hadijaya kepada Kontan.co.id, Senin (05/02).

Di tahun ini, Lautan Luas juga menargetkan pertumbuhan pendapatan di kisaran 8% hingga 10% dengan estimasi laba bersih sejalan dengan kenaikan penjualan.

Di tahun 2024, LTLS juga tetap positif dalam melihat permintaan produk kimia. Lautan Luas menilai, permintaan produk kimia tahun ini masih akan meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2023, terutama didukung oleh ekspektasi banyaknya investasi baru yang masuk ke Indonesia.

Baca Juga: Lautan Luas (LTLS) Targetkan Pendapatan Tumbuh hingga 12% pada Tahun 2024

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang impor dan distribusi bahan kimia untuk industri batik dan makanan, LTLS mengatakan konflik yang terjadi di Laut Merah hingga membuat tarif logistik pengiriman kapal atau freight cost naik, berdampak tipis. 

Supplier LTLS terdiversifikasi dari beberapa negara, sehingga secara total cost import tidak terlalu berpengaruh. Untuk impor dari negara-negara yang terkena imbas dari krisis Laut Merah, memang ada kenaikan, namun hal yang sama juga dialami oleh competitor LTLS, sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap market share kami,” kata Eurike. 

Eurike menambahkan, terdapat pengecualian untuk barang-barang yang terkena imbas dari krisis Laut Merah. “Kami terpaksa harus menyesuaikan harga jual untuk menutupi kenaikan biaya logistik dan jasa pelayaran,” ungkap dia.

Baca Juga: Lautan Luas (LTLS) Konsolidasikan Bisnis Pengolahan Air ke Lautan Air Indonesia

Sebelumnya, Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Carmelita Hartoto mengungkapkan konflik yang terjadi di Laut Merah membuat freight cost kapal global dari Asia ke Eropa ikut terdorong naik sekitar 53% sampai 63. 

Carmelita juga menerangkan, dampak dari konflik laut merah sangat signifikan terhadap pelayaran dunia. Mulai dari tertundanya waktu pengiriman barang Asia ke Eropa, naiknya biaya operasional seperti bunker karena kapal menghindari laut merah dan meningkatnya konsumsi bahan bakar kapal yang lebih banyak. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP) Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet

[X]
×