kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45921,46   1,15   0.12%
  • EMAS1.343.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Letusan Gunung Agung hambat ekspor tuna segar


Selasa, 28 November 2017 / 08:57 WIB
Letusan Gunung Agung hambat ekspor tuna segar


Reporter: Abdul Basith | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Letusan Gunung Agung di Bali akan berdampak pada ekspor tuna Indonesia. Selama ini, Bali merupakan kontributor ekspor tuna terbesar. Setiap tahun, Pulau Dewata ini rata-rata mengekspor 18.000 ton ikan tuna ke berbagai negara, terutama pasar Jepang.

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Rifky Effendi Hardijanto, selama ini ekspor tuna segar melalui jalur logistik udara. "Proses ekspor tuna kita ke berbagai negara pasti terganggu akibat letusan Gunung Agung ini," ujarnya, Senin (27/11).

Untuk mengantisipasi gangguan ekspor tuna, KKP akan menggelar pertemuan dengan para eksportir dan para pembeli tuna negara tujuan untuk mencari jalan keluar atas masalah ini. Sebagai alternatif, KKP akan membantu memfasilitasi pengiriman tuna segar melalui jalur Surabaya, Jawa Timur. Jadi, akan disiapkan kendaraan pengangkut berpendingin dari Bali menuju Surabaya.

Apabila penutupan bandara berlangsung lama, proses pengiriman tuna melalui jalur darat dari Bali ke Surabaya akan menjadi pilihan sementara. Oleh karena itu, KKP akan berkomunikasi dengan Kementerian Perhubungan terkait dengan sejumlah perizinan maupun regulasi lain.

Yugi Prayanto, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Kelautan dan Perikanan, mengatakan sejauh ini belum terasa dampak letusan Gunung Agung pada ekspor tuna Indonesia ke mancanegara. Namun ia memprediksikan, bila penutupan bandara berlangsung dalam waktu yang lama, ekspor tuna akan terganggu. "Kami memproyeksikan dampak letusan ini tidak signifikan terhadap ekspor tuna. Justru efek kebijakan KKP soal larangan transhipment lebih signifikan menurunkan ekspor tuna," ujarnya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin) Hendra Sugandhi menambahkan, Bali merupakan salah satu titik ekspor tuna segar terbesar di Indonesia. Namun selama ini ekspor tuna dari Bali terus menyusut, termasuk ekspor pada tahun ini. "Penurunan ini terjadi karena kurangnya pemanfaatan laut lepas dan kapal besar," tandasnya.

Berdasarkan data BPS, ekspor tuna pada tahun 2015 turun drastis 23,3% menjadi 77.465,4 ton senilai sekitar US$ 148,35 juta dari tahun 2014 yang mencapai 101.111 ton senilai US$ 210,34 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×