kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45839,62   -5,89   -0.70%
  • EMAS1.349.000 0,52%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Luhut Targetkan Launching Penggunaannya SAF pada September


Kamis, 30 Mei 2024 / 07:10 WIB
Luhut Targetkan Launching Penggunaannya SAF pada September
ILUSTRASI. Produk bahan bakar Bio Avtur dan Sustainable Aviation Fuel (SAF) untuk mesin pesawat terbang dari Pertamina.


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Pandjaitan memimpin Rapat Rancangan Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Pengembangan Industri Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia pada Rabu (29/5). 

Rencananya, avtur berkelanjutan yang dikembangkan dalam SAF adalah bahan bakar pesawat dari minyak jelantah atau used cooking oil.

"Hal ini ternyata sudah lumrah dilakukan di beberapa negara tetangga kita, seperti Malaysia dan Singapura," ujar Luhut dalam keterangannya, Rabu (29/5).

Baca Juga: Berkah Jelantah

Di samping itu, Indonesia memiliki potensi pasokan 1 juta liter minyak jelantah tiap tahunnya. Di mana 95% diekspor ke beberapa negara.

Berdasarkan data IATA, Indonesia diprediksi akan menjadi pasar aviasi terbesar keempat di dunia dalam beberapa dekade kedepan. Dengan asumsi kebutuhan bahan bakar ini mencapai 7.500 ton liter hingga 2030. 

Sebagai informasi, Pertamina sebagai pemimpin di bidang transisi energi sudah melakukan uji coba statis yang sukses dari SAF, untuk digunakan pada mesin jet CFM56-7B. 

Baca Juga: Pilah Sampah Bisa Menjadi Cuan

"Hal ini membuktikan bahwa produk mereka layak digunakan pada pesawat komersil," ucap Luhut.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah penciptaan nilai ekonomi melalui kapasitas produksi kilang-kilang biofuel Pertamina.

"Diestimasikan bahwa penjualan SAF secara domestik dan ekspor dapat menciptakan keuntungan lebih dari Rp 12 triliun per tahunnya," kata Luhut.

Selain itu, pengembangan industri SAF juga akan menjadi pintu masuk investasi kilang biofuel lebih lanjut dari swasta maupun BUMN.

Baca Juga: Kementerian ESDM: Implementasi B35 Capai 8,9 Juta Kilo Liter Hingga September 2023

Seiring meningkatnya aktivitas penerbangan, emisi karbon yang dihasilkan juga akan terus bertambah. Oleh karena itu, intervensi untuk mengurangi emisi karbon menjadi penting. 

Dari berbagai data dan kajian, Luhut menyimpulkan bahwa SAF adalah solusi paling efektif untuk mewujudkan masa depan penerbangan yang ramah lingkungan di Indonesia. 

Sehingga upaya menciptakan Bahan Bakar Aviasi Ramah Linkungan (SAF) ini bukan hanya menjadi inovasi semata, melainkan suatu komitmen dalam upaya mengurangi emisi karbon global. 

"Saya menargetkan setelah keluarnya Peraturan Presiden, SAF dapat kita launching selambatnya pada @baliairshow September mendatang," pungkas Luhut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×