kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.790.000   -15.000   -0,53%
  • USD/IDR 16.909   -48,00   -0,28%
  • IDX 8.992   -18,15   -0,20%
  • KOMPAS100 1.239   1,44   0,12%
  • LQ45 875   3,69   0,42%
  • ISSI 330   0,16   0,05%
  • IDX30 448   2,63   0,59%
  • IDXHIDIV20 528   6,59   1,26%
  • IDX80 138   0,26   0,19%
  • IDXV30 146   2,21   1,53%
  • IDXQ30 144   1,54   1,08%

Masa Depan Kerja Berubah Drastis, Simak Skill Baru yang Banyak Dicari


Kamis, 22 Januari 2026 / 22:07 WIB
Masa Depan Kerja Berubah Drastis, Simak Skill Baru yang Banyak Dicari
ILUSTRASI. Ilustrasi artificial intelligence, AI (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  World Economic Forum (WEF) mencatat, hingga tahun 2030, kompetensi kunci di dunia kerja mencakup analytical thinking, resilience, creative thinking, technology literacy, serta kemampuan mengelola kecerdasan buatan (AI) dan big data.

Percepatan adopsi kecerdasan buatan secara global kian mengubah lanskap dunia kerja dan menuntut peran sumber daya manusia (SDM) yang lebih strategis.

Managing Director Elsa Speak, Yasser Muhammad Syaiful menyoroti kesenjangan antara tingginya paparan AI dan kesiapan organisasi di Indonesia. Ia mengungkapkan, sekitar 93% profesional di Indonesia telah terekspos AI. Namun kesiapan organisasi masih tertinggal, terutama dari sisi kualitas data, pengembangan kapabilitas, dan kesiapan pola pikir karyawan.

"Kemampuan komunikasi—termasuk penguasaan bahasa Inggris yang relevan dengan konteks pekerjaan—menjadi medium penting untuk mengaktifkan kompetensi masa depan di lingkungan kerja global," ujar Yasser, dalam keterangan resmi, Kamis (22/1). 

Baca Juga: RMA Solusi Indonesia Tampilkan Teknologi HR dan Digitalisasi di Indonesia Expo 4.0

ELSA Speak sendiri mengimplementasikan solusi pembelajaran berbasis AI. Pendekatan ini diarahkan untuk membantu organisasi membangun kesiapan komunikasi berstandar internasional, meningkatkan kepercayaan diri talenta, serta memperkuat kolaborasi lintas tim dan budaya.

“Memasuki 2026, HR dituntut bergerak lebih cepat dan berbasis data. Perusahaan tidak lagi cukup hanya berinvestasi pada sistem atau teknologi, tetapi juga pada kesiapan manusia,” timpal Dudi Arisandi, Chief People Officer PT Global Tiket Network.

Kebutuhan terbesar HR ke depan adalah membangun talenta yang adaptif, mampu berpikir kritis, dan siap bekerja berdampingan dengan AI.

Percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) secara global kian mengubah lanskap dunia kerja dan menuntut peran sumber daya manusia (SDM) yang lebih strategis.

Selanjutnya: Kacamata Macron Viral di Davos, Saham Pembuatnya Melonjak Hampir 28%

Menarik Dibaca: Tren Cat Rumah 2026 Ini yang Akan Jadi Tempat Pemulihan, Bukan Sekadar Pamer Lo

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×