kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.628.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.855   89,00   0,50%
  • IDX 6.385   -56,43   -0,88%
  • KOMPAS100 835   -7,46   -0,89%
  • LQ45 634   -5,96   -0,93%
  • ISSI 222   -3,01   -1,34%
  • IDX30 353   -3,37   -0,95%
  • IDXHIDIV20 440   -4,01   -0,90%
  • IDX80 95   -0,92   -0,95%
  • IDXV30 121   -0,86   -0,71%
  • IDXQ30 114   -1,28   -1,12%

Memahami Proses di Balik Makanan Olahan


Senin, 21 September 2026 / 15:06 WIB
Memahami Proses di Balik Makanan Olahan
ILUSTRASI. daging olahan - sosis (dok./Kontan)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan olahan kerap disorot dari sisi kualitas dan kesehatan. Padahal, produk yang sampai ke konsumen melalui proses quality control (QC) yang ketat, mulai dari pemilihan bahan baku hingga produksi.

Axel Sutantio, CEO Consumer Food Cimory Group mengatakan, pengolahan pangan pada dasarnya bertujuan membuat bahan pangan lebih aman, tahan disimpan, praktis, atau siap dikonsumsi, melalui proses seperti memasak, pembekuan, fermentasi, dan pasteurisasi.

Karena itu, menurutnya, menilai pangan tidak cukup hanya dari statusnya sebagai makanan olahan. Bahan baku, proses produksi, kandungan nutrisi, penyimpanan, dan cara konsumsi juga perlu diperhatikan. Dalam industri pangan modern, seluruh tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan keamanan dan konsistensi kualitas produk.

Hal itu disampaikan Axel yang membawahi bisnis makanan konsumen, termasuk sosis. Menurutnya, kualitas produk ditentukan sejak pemilihan bahan baku hingga proses produksi.
“Bahan bakunya harus benar, kemudian prosesnya harus benar, baru bisa menghasilkan produk yang baik,” ungkap Axel dalam keterangannya, Senin (21/9/2026). 

Baca Juga: Pangan Olahan Tak Bisa Asal Dicap Berbahaya

Untuk sosis Kanzler, misalnya, bahan yang digunakan adalah 100% fillet ayam tanpa tulang dan kulit, bukan mechanically deboned meat (MDM). “Untuk daging, kami benar-benar memakai 100% daging fillet, boneless, dan skinless,” katanya.

Selain bahan baku, proses produksi juga dikontrol secara ketat, termasuk suhu, pemasakan, pembekuan, dan penyimpanan. Salah satunya menggunakan teknologi individual quick freezing (IQF), yakni pembekuan cepat setelah produk matang.

Alex bilang, pembekuan cepat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme sekaligus menjaga tekstur produk. Pengendalian suhu dan cold chain juga penting untuk mempertahankan kualitas selama distribusi dan penyimpanan.

Lulusan Food Science & Technology dari Curtin University of Technology Australia ini  mengatakan bahwa produk yang lebih cepat rusak justru menunjukkan bahwa produk tersebut tidak menggunakan pengawet. Menurutnya, kualitas produk ditentukan oleh keseluruhan proses, mulai dari pemilihan bahan baku, produksi, hingga penyimpanan.

Baca Juga: Gapmmi Pertahankan Target Pertumbuhan Industri Mamin 6,5% pada 2026

Pada akhirnya, diskusi mengenai makanan olahan perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Konsumen dapat memperhatikan komposisi produk, informasi nilai gizi, porsi konsumsi, serta bagaimana suatu makanan menjadi bagian dari keseluruhan pola makan sehari-hari.

Tidak hanya dari sisi produknya saja, tetapi konsumen juga mampu melihat siapa produsennya. Apakah sudah berizin, memiliki sertifikasi yang relevan dan transparan dalam mencantumkan nilai gizi hingga instruksi konsumsi. 

Bagaimanapun juga industri pangan olahan adalah industri yang besar. Apalagi untuk negara seperti Indonesia dengan konsumsi domestik yang menjadi tulang punggung ekonomi. Proses pengolahan makanan juga melibatkan ilmu dan teknologi yang terus mendukung peningkatan mutu, keamanan dan kesehatan konsumen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×