kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Membahayakan, harga beras makin naik


Kamis, 21 Oktober 2010 / 14:39 WIB
Membahayakan, harga beras makin naik
ILUSTRASI.


Reporter: Femi Adi Soempeno, Bloomberg |

SINGAPURA. Kontrak beras meningkat di hari yang ke-delapan secara berturut-turut ditengah meningkatnya permintaan dan merosotnya panenan di negara penghasil beras terbesar yang berpotensi mengikis suplai beras di pasar global.

Harga beras untuk pengiriman Januari naik sebesar 0,8% menjadi US$ 14,505 per 100 pound di Chicago Board of Trade, level yang paling tinggi sejak 10 Februari 2010; dan diperdagangkan di level US$ 14,50 pada pukul 2:32 waktu Singapura.

Persediaan beras di pasar global yang disuplai oleh lima negara eksportir terbesar di dunia kemungkinan akan anjlok tahun depan; sehingga berpotensi menyurung kenaikan harga beras. Hal ini ditegaskan oleh Concepcion Calpe, Senior Economist Food & Agriculture Organization of the UN di Roma, kamis (21/10).

"Tahun depan akan bahaya. AS kemungkinan akan mengkoreksi turun produksi berasnya dan persediaan sejumlah negara eksportir akan lebih ketat dari tahun ini. Mereka akan mengekspor cukup banyak tahun ini," kata Calpe.

Tahun ini, pengiriman beras dari Thailand, Vietnam, Pakistan, AS dan India, yang mencuil 80% perdagangan global. akan naik sebesar 8,4% dari tahun lalu menjadi 24,7 juta ton. Menurut hitungan Bloomberg berdasarkan data U.S. Department of Agriculture, kondisi ini akan menguras persediaan.

"Makin ketatnya suplai beras dan rendahnya persediaan akan menyokong harga beras," kata Kiattisak Kanlayasirivat, Director Novel Commodities S.A.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×