kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Mengenal CCCG, sang pengembang Daan Mogot City


Minggu, 02 Oktober 2016 / 13:11 WIB

Mengenal CCCG, sang pengembang Daan Mogot City

HANG ZHOU/SHANGHAI. Ingat pepatah: Tak kenal maka tak sayang? Sepertinya pepatah ini berlaku untuk perusahaan pengembang terbesar China, yakni China Communications Construction Group (CCCG). Nama CCCG di Indonesia tak seharum nama perusahaan ini di negara asalnya.

Sekadar informasi saja, CCCG merupakan perusahaan gabungan dari China Harbour Engineering Company Group dan China Road and Bridge Group.

Perusahaan ini bergerak dalam bidang konstruksi dan desain pengerukan, infrastruktur, transportasi dan bisnis manufaktur mesin pelabuhan. CCCG merupakan perusahaan konstruksi dan desain pelabuhan terbesar di China, perusahaan pengerukan terbesar di China.

Di China, CCCG memiliki ratusan kantor cabang yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Jumlahnya mencapai 167 kantor cabang yang beroperasi di lebih dari 120 negara dengan jumlah karyawan melampaui 120.000 orang. Perusahaan pengembang ini sudah menggarap 400 proyek properti di 90 kota di China, dengan total 20 juta meter persegi (m2) telah dilakukan serah terima.

Sementara di Indonesia, proyek yang digarap CCCG di antaranya yaitu Jembatan Suramadu dan Jalan Tol Kuala Namu. Untuk properti, CCCG lewat anak usahanya PT China Harbour Jakarta Real Estate Development, CCCG meluncurkan produk perdana mereka yaitu Daan Mogot City (Damoci).

Karena Damoci merupakan proyek hunian pertama CCCG di Indonesia, pastinya banyak pihak yang bertanya-tanya mengenai komitmen dan kinerja perusahaan ini.

Head of Sales Daan Mogot City, Simon Suhendro, dalam acara Media Tour Daan Mogot Zero, Distance di Hang Zhou, China, Rabu (29/9) malam, menjelaskan CCCG merupakan pengembang terbesar di China yang sudah tidak diragukan lagi kinerjanya.

"Kami dikenal dengan nama Green Town di China. Nama ini sudah sangat harum. Nama ini pula yang kami bawa ke Indonesia," jelas Simon.

Simon menguraikan, dalam pembangunan residensial, CCCG selalu mengusung konsep 4 H. Yakni, health, high quality education, happiness, dan herritage.

“Kami selalu berupaya untuk menyediakan sarana kesehatan dimanapun CCCG membangun proyek hunian. Selain itu, besarnya sebuah masyarakat atau bangsa juga ditentukan oleh faktor kualitas pendidikan. Itu sebabnya, high quality education sangat ditekankan CCCG dalam setiap propertinya,” papar Simon.

KONTAN dan empat jurnalis lain asal Indonesia sempat bertandang ke sejumlah proyek anak usaha CCCG, Green Town di China pada 27-30 September 2016 lalu. Ada enam proyek properti yang kami kunjungi. Berikut liputannya.

- Xi Xi Cheng Yuan

Kawasan Xixi Cheng Yuan sangat luas yang terdiri dari delapan kluster. Bagian tengah komplek apartemen middle rise ini sangat rindang karena ditanami oleh beragam pohon dan bunga-bunga. Disebut middle rise karena hanya terdiri dari 10 lantai hingga 12 lantai.

Jika kita terus mengikuti jalan setapak yang ada, kita akan menemukan fasilitas-fasilitas lain seperti kolam renang dan kolam ikan. Kita juga dapat menemukan beberapa pendopo atau area bersantai untuk beristirahat atau sekadar membaca buku.

Keunggulan lain taman ini adalah tersedianya fasilitas pet toilet. Pet toilet menyediakan plastik untuk membuang kotoran hewan peliharaan. Sehingga, jika ada tenan yang hewan peliharaannya membuang kotoran saat jalan-jalan di taman, mereka bisa langsung menggunakan fasilitas ini.

Taman yang luas dan kolam renang terletak di bagian tengah komplek residensial ini. Beberapa spesifikasi lain yang menjadi unggulan Xixi Cheng Yuan adalah lobi apartemen pada setiap tower memiliki luas layaknya lobi hotel, dengan kisaran 600-800 meter per segi (m2) dengan tinggi lobi mencapai 7,2 meter. Selain itu, seluruh unit sudah dilengkapi dengan floor heating systems dan whole unit water purification systems.

Adapun fasilitas lainnya adalah community management centers, health center, youth & elderly clubs, Yi music school, business center, dan education center.

Khusus fasilitas kesehatan, Xixi memiliki klinik kesehatan yang cukup lengkap yang juga terbuka untuk masyarakat umum. Mulai dari pemeriksaan darah, tekanan darah, hingga pengecekan paru. Hanya saja, klinik ini untuk pemeriksaan awal saja. Jika ternyata pasien membutuhkan perawatan yang lebih mendalam, mereka akan dirujuk ke rumah sakit besar. Di sini, para tenan akan menjadi pasien prioritas.  

Sebagai bentuk program Corporate Social Responsibility (CSR), Green Town memberikan les berenang secara cuma-cuma bagi para tenan yang memiliki anak-anak.

Xixi Cheng Yuan memiliki unit dengan ukuran 160 m2-280 m2. Adapun harga yang dipatok untuk setiap unit mencapai 36.000 yuan/m2 atau setara dengan Rp 72 juta/m2.

- Tao Hua Yuan

Proyek Tao Hua Yuan merupakan landed house yang mengusung konsep perumahan dengan taman di bagian depan dan belakang. Adapun gaya arsitekturnya mengadopsi tema dari sejumlah negara seperti Prancis, Spanyol, Jerman, hingga China. Itu sebabnya, proyek ini juga dinamakan Museum of World landed house styles.

Unit contoh yang KONTAN sambangi pada proyek ini mengadopsi gaya China. Bangunan utama terletak di bagian tengah. Sementara, sekelilingnya terdapat taman yang luas dan rindang.

Di bagian belakang taman, terdapat danau buatan. Lalu, ada juga pendopo bergaya atap khas bangunan China untuk bersantai di pagi atau sore hari.

Total area kawasan proyek ini mencapai 180 hektare. Salah satu keunggulan dari perumahan ini adalah pemandangan perbukitan yang indah, sungai, taman yang luas, danau, dan pepohonan yang rindang.

Ada rupa pastinya ada harga. Perumahan di kawasan ini dibanderol Rp 40 miliar hingga Rp 200 miliar per unitnya. Terbilang fantastis kan? Tak heran jika target pasar Tao Hua Yuan ditujukan untuk kelas atas. Luas per unit berkisar antara 300 m2 hingga 4.670 m2.

Kendati harganya selangit, peminat perumahan Tao Hua Yuan tetap tinggi. "Para tenan di sini sebagian besar membeli untuk dijadikan sebagai rumah kedua dan berkumpul dengan keluarga di akhir pekan," jelas Simon.

- Taoli Chunfeng

Proyek Taoli Chunfeng berdiri di atas lahan 7,8 hektare. Proyek ini merupakan landed house dengan ukuran yang lebih kecil dibanding Tao Hua Yuan.

Saat KONTAN masuk ke dalam salah satu unit contoh rumah Taoli Chunfeng, penataan rumah terbilang unik. Ada dua bangunan yang terpisahkan oleh taman yang cukup luas di bagian tengah. Luas taman dan bangunan memiliki luas yang sama. Jika unit yang terkecil memiliki luas 83 m2, maka tamannya pun memiliki luas yang sama.

Satu unit dalam proyek ini memiliki luas rumah berkisar 83 m2 hingga 180 m2. Sedangkan harganya mencapai 26.000 RMB atau setara dengan Rp 52.000.000 per m2.

Di akhir tahun ini, Taoli Chun Feng akan meluncurkan proyek apartemen teranyar mereka yang terdiri dari empat hingga lima lantai. Per unitnya, luas apartemen berkisar antara 50 m2 hingga 130 m2.

- Young City

Green Town juga membangun proyek middle class dengan target market anak muda berpenghasilan Rp 14 juta hingga Rp 20 juta per bulan. Proyek tersebut dinamakan Young City. Anak-anak muda yang menjadi target market Green Town kali ini antara lain pekerja kantoran, guru dan anak-anak muda.

Young City dibangun di atas lahan seluas 30 hektare total 3.800 unit. Sebanyak 7 hektare digunakan untuk green area dan fasilitas lainnya sesuai dengan konsep yang diusung Green Town.

Dalam pembangunannya, Young City dibagi menjadi empat tahap. Tahap satu dan tahap dua sudah sold out seluruhnya. Saat ini, Green Town tengah memasarkan tahap tiga Young City. Sedangkan tahap keempat masih dalam perencanaan.

Seperti halnya proyek-proyek Green Town lainnta, Young City juga dilengkapi beragam fasilitas. Mulai dari sekolah, area komersial, hingga taman untuk jogging dan bersepeda. Ke depannya, di lokasi ini juga akan dibangun pusat perbelanjaan yang terintegrasi dengan proyek hunian.

Untuk proyek ini, Green Town menargetkan bisa mengelarkan seluruhnya pada 2020.

- Liu Xiang Yuan

Proyek Liu Xiang Yuan kerap dikenal dengan Lingering Fragrance Garden. Proyek ini terdiri atas 11 menara. Dari jumlah tersebut, delapan tower sudah laku terjual.

Adapun luas terkecil dari unit apartemen ini adalah 100 m2. Sedangkan unit yang paling luas mencapai 180 m2. Unit yang paling tinggi peminatnya memiliki luas 139 m2 yang terdiri atas empat ruangan di mana tiga di antaranya adalah kamar tidur.

Konsep yang diusung proyek ini adalah menciptakan tempat tinggal bagi penghuninya, bukan hanya sekadar rumah.

Adapun target market Liu Xiang Yuan adalah middle class, seperti dokter, guru, tenaga profesional, dan lain-lain.

Bicara mengenai harga, apartemen ini dipatok senilai 50.000 yuan per m2 atau Rp 100 juta per m2.

- Shanghai Bund House

Salah satu proyek Green Town yang paling prestisius adalah Shanghai Bund House. Proyek ini berada di daerah Bund dan terletak di jantung kota Shanghai.

Shanghai Bund berdiri di atas lahan seluas 6,3 hektare. Sedangkan total area konstruksi mencapai 260.000 m2.

Proyek ini didisain khusus oleh BLD, yang merupakan perusahaan disain interior hotel bintang lima di Amerika Serikat. Shanghai Bund menawarkan pemandangan sungai yang indah,

Adapun harga termurah unit apartemen ini Rp 300 juta per m2. Sedangkan unit termahal dibanderol seharga Rp 760 juta per m2.

Peminat dari Shanghai Bund terdiri atas kalangan aktor-aktris, para pemegang saham, hingga CEO. ," kata Marketing Shanghai Bund, Roky Lu saat menjelaskan tentang Shanghai Bund di lokasi proyek.

 


Reporter: Barratut Taqiyyah
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Video Pilihan


Close [X]
×