kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.965   52,00   0,29%
  • IDX 5.669   26,20   0,46%
  • KOMPAS100 732   4,13   0,57%
  • LQ45 557   3,79   0,69%
  • ISSI 197   0,36   0,19%
  • IDX30 316   1,45   0,46%
  • IDXHIDIV20 390   0,52   0,13%
  • IDX80 83   0,39   0,47%
  • IDXV30 106   -0,47   -0,44%
  • IDXQ30 102   0,35   0,34%

Menperin: Industri non migas bisa tumbuh positif


Jumat, 04 Agustus 2017 / 16:13 WIB


Reporter: Eldo Christoffel Rafael | Editor: Dessy Rosalina

JAKARTA. Kinerja industri pengolahan non-migas sepanjang tahun 2017 diprediksi mampu tumbuh positif sebagai kontributor terbesar bagi perekonomian nasional.

Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan dukungan iklim usaha dan kondisi pasar yang kondusif baik di domestik maupun global.

“Salah satunya memang faktor ketersediaan pasar, sehingga perlu kombinasi tujuan pasar untuk dalam negeri dan ekspor. Jika pasar optimal, produksi bisa maksimal,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dalam keterangan pers Jumat (4/8).

Faktor penting lainnya guna memacu pertumbuhan industri. Yaitu kelancaran dari perizinan investasi, pasokan bahan baku, dan alur logistik.

Menurut Airlangga, industri manufaktur tidak hanya fokus pada produksi barang konsumsi untuk pasar dalam negeri, tetapi juga harus menangkap peluang pasar ekspor.

“Kami berharap, daya beli masyarakat meningkat. Volume industri saat ini terbantu dengan pasar ekspor,” tuturnya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor Indonesia pada Januari-Juni tahun 2017 mencapai US$ 59,7 miliar atau naik 10 % dibanding periode yang sama tahun 2016 sebesar US$ 54,3 miliar.

Sementara itu, berdasarkan data dari Nikkei Purchasing Manager Index (PMI), rata-rata PMI pada kuartal I tahun 2017 adalah 50,06, sedangkan pada kuartal II-2017 sebesar 50,4. Indeks di atas 50 menunjukkan rentang ekspansi. Artinya, kinerja manufaktur secara rata-rata lebih baik.

“Bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lain, Indonesia termasuk lebih baik dari Malaysia dan Singapura yang indeks PMI-nya berada di bawah Indonesia. Jadi, Indonesia tidak sendiri menghadapi situasi seperti ini,” papar Airlangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×