kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.810.000   -40.000   -1,40%
  • USD/IDR 16.986   57,00   0,34%
  • IDX 7.108   -56,38   -0,79%
  • KOMPAS100 979   -9,84   -1,00%
  • LQ45 722   -9,78   -1,34%
  • ISSI 250   -1,67   -0,66%
  • IDX30 393   -5,42   -1,36%
  • IDXHIDIV20 492   -6,74   -1,35%
  • IDX80 110   -1,14   -1,02%
  • IDXV30 135   -1,81   -1,32%
  • IDXQ30 128   -1,47   -1,13%

Menteri ESDM: Asing beramai-ramai masuk listrik


Selasa, 24 Maret 2015 / 15:18 WIB
Menteri ESDM: Asing beramai-ramai masuk listrik
ILUSTRASI. Logo PT Global Digital Niaga atau Blibli.


Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA.  Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said optimistis proyek kelistrikan 35 gigawatt (GW) yang ditargetkan rampung 2019, bakal terealisasi. Sebab, dia bilang, pada tahun ini sejumlah penanam modal sudah melirik proyek kelistrikan ini. 

“Tahun ini 35.000 MW akan punya investor. Mereka berbondong-bondong untuk masuk ke listrik ini secara procurement,” kata Sudirman dalam Peluncuran Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015, Jakarta, Selasa (24/3). 

Sudirman lebih lanjut mengatakan, saat ini sudah ada 50 persen investor (eksisting) yang berkomitmen untuk menambah kapasitas listrik. Sebanyak 6.000 megawatt (MW) masih dalam proses procurement oleh IPA (Independent Procurement Agent), dan 6.000 MW masih dalam persiapan tender. 

Sudirman menuturkan, pemerintah telah melakukan percepatan realisasi proyek 35GW dengan menyingkirkan delapan kendala di proyek kelistrikan. 

"Proyek 35 GW ini merupakan suatu keharusan. Tapi kita minta masyarakat bersabar karena membangun pembangkit listrik atau menambah kapasitas listrik bukan hal mudah,” ucap dia. 

Selain fokus pada penambahan kapasitas listrk, Sudirman menambahkan pemerintah juga memperhitungkan bauran energi yang digunakan untuk pembangkit. Dia bilang, pemerintah akan menambah sumber energi baru terbarukan dalam bauran energi primer pembangkit. Sebab, harga energi fosil mahal dan pada 20 tahun nanti diperkirakan pasokannya akan menipis. 

“Makanya beralih ke energi baru terbarukan. Sebab membangun atau menambah kapasitas listrik 1 MW lebih mahal ketimbang menghemat 1 MW,” kata Sudirman. (Estu Suryowati)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×