kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45898,26   5,68   0.64%
  • EMAS1.332.000 0,60%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Menteri ESDM: Harga BBM Indonesia bukan yang paling mahal di Asia Tenggara


Senin, 04 Mei 2020 / 13:19 WIB
Menteri ESDM: Harga BBM Indonesia bukan yang paling mahal di Asia Tenggara
ILUSTRASI. Menteri ESDM Arifin Tasrif (tengah)


Reporter: Filemon Agung | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai, harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia bukanlah yang termahal di kawasan Asia Tenggara kendati belum mengalami penyesuaian harga di tengah pandemi virus corona dan pelemahan harga minyak dunia.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengungkapkan, bahkan harga bensin setara Ron 95 Indonesia pada periode Januari hingga Februari 2020 masih tergolong yang terendah di kawasan Asean.

"Di Indonesia, sebelum pandemi dan perang harga minyak, sudah turunkan harga pada 5 Januari 2020. Sebagai catatan, sebelum diturunkan ini harga BBM Indonesia tercatat paling murah di kawasan Asean. Februari juga dilakukan penurunan karena ada indikasi penurunan crude," kata dia dalam RDP Virtual bersama Komisi VII DPR RI, Senin (4/5).

Baca Juga: Menteri ESDM: Harga BBM bulan Mei belum akan turun, masih sama seperti April

Arifin mengakui, saat ini beberapa negara di Asia Tenggara sudah menurunkan harga BBM yang cukup signifikan seperti lain Malaysia dan Vietnam.

Saat ini pemerintah telah menanggung subsidi untuk solar dan premium serta badan usaha menerapkan sacrificing price untuk produk pertalite. Bahkan, menurut Arifin, Filipina menjual BBM setara pertalite sebesar Rp 10.000 per liter dan Laos di kisaran Rp 14.000 per liter atau jauh lebih tinggi dari harga jual di tanah air.

Di sisi lain, harga jual solar di Indonesia memang tergolong tinggi. Kendati demikian, penerapan harga yang ada saat ini sudah dipertahankan cukup lama bahkan di saat negara-negara lain memasang harga yang jauh lebih tinggi.

Di saat yang sama, penurunan volume penjualan juga turun. Dia mencontohkan, volume penjualan solar dimana volume rerata normal yang sebesar 41.309 kiloliter (kl) turun 18,7% menjadi 33.584 kl per April 2020.

Volume penjualan bensin juga mengalami penurunan. Per April, volumenya hanya turun 29,8% atau menjadi 65.678 kl. Adapun, penjualan normal berada di kisaran 93.558 kl.

Arifin melanjutkan, kondisi saat ini saja sudah menjadi pukulan bagi badan usaha. Ia memastikan pemerintah mengambil sikap untuk memantau kondisi yang ada saat ini terlebih dahulu sebelum melakukan penyesuaian harga BBM.

"Kami masih memantau kestabilan kurs dan harga minyak. Di sisi lain, Pertamina juga lakukan aksi korporasi dengan pemberian diskon-diskon, juga tetap memikirkan nelayan yang memanfaatkan solar dan LPG," ungkap Arifin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×