Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menargetkan mobil nasional mulai diproduksi secara massal paling lambat pada 2028. Untuk merealisasikan target tersebut, pemerintah perlu memastikan kesiapan manufaktur, teknologi, rantai pasok hingga pasar kendaraan nasional.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai, target produksi massal pada 2028 menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengembangkan industri mobil nasional. Fondasi manufaktur mulai disiapkan, termasuk rencana finalisasi fasilitas PT Pindad di Subang.
Baca Juga: Pemerintah Izinkan PT Timah Beli Hasil Tambang Rakyat Bangka Belitung
"Target produksi massal pada 2028 menunjukkan target yang sangat serius. Fondasi manufakturnya sudah mulai disiapkan," kata Yannes kepada Kontan, Rabu (19/8/2026).
Yannes memperkirakan fasilitas tersebut dapat memiliki kapasitas awal sekitar 50.000-100.000 unit per tahun. Namun, tantangan terbesar bukan pembangunan pabrik, melainkan kecepatan pemerintah dalam mengunci keputusan mengenai produk yang akan dikembangkan.
Segmen pasar, captive market, rentang harga, desain, hingga mitra platform kendaraan perlu segera ditentukan. Pasalnya, pengembangan kendaraan penumpang baru umumnya membutuhkan waktu sekitar 24-36 bulan sejak desain dibekukan hingga produksi perdana, di luar waktu penyiapan tooling pemasok.
Jika keputusan strategis tersebut sudah final sekitar pertengahan 2027, Yannes menilai produksi pada 2028 masih memungkinkan dimulai dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang ditingkatkan secara bertahap.
Pada tahap awal, sejumlah komponen bernilai tinggi masih berpotensi berasal dari impor apabila pasokan domestik belum siap. Komponen tersebut antara lain sel baterai, semikonduktor daya, drivetrain, battery management system (BMS), unit kontrol elektronik, serta sebagian perangkat lunak.
Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan roadmap lokalisasi sejak awal. Selain memastikan hak kekayaan intelektual (HaKI) desain berada di dalam negeri, pengembangan pemasok lokal juga perlu dilakukan secara terstruktur agar peningkatan TKDN tidak mengorbankan kualitas dan daya saing produk.
Persaingan Ketat
Di sisi pasar, peluang mobil nasional masih terbuka. Namun, medan persaingan kendaraan listrik (EV) di Indonesia kini jauh lebih ketat dibandingkan beberapa tahun lalu.
Yannes mengatakan pasar EV domestik semakin dipenuhi merek asal China yang menawarkan harga agresif, desain menarik, teknologi digital, serta ekosistem penjualan, servis dan suku cadang yang semakin matang.
"Mobil nasional tidak cukup hanya hadir dengan label lokal atau harga yang sedikit lebih murah. Ia harus punya diferensiasi yang nyata, baik dari sisi biaya, desain, teknologi maupun layanan purnajual," ujarnya.
Menurut Yannes, proyek mobil nasional justru dapat menjadi instrumen untuk membangun kemampuan industri domestik, mulai dari penguasaan HaKI desain, arsitektur kendaraan, BMS, drivetrain hingga perangkat lunak. Pengembangan tersebut juga harus dibarengi dengan pendalaman industri pemasok lokal.
Baca Juga: WINR Pacu Ekspansi Properti di Jawa
Karena itu, mobil nasional perlu dirancang untuk menghadapi persaingan pasar secara langsung, bukan hanya mengandalkan proteksi maupun pengadaan pemerintah sebagai pasar utama.
Sementara itu, pengamat otomotif Bebin Djuana menilai target produksi massal 2028 masih realistis, tetapi sangat bergantung pada mitra yang dipilih pemerintah.
"Seberapa realistis tergantung siapa yang diajak kerja sama," kata Bebin kepada Kontan, Selasa (18/8/2026).
Menurut dia, produksi dapat berlangsung lebih cepat apabila pemerintah menggandeng merek yang sudah memiliki pengalaman produksi massal dan jaringan ekspor. Dengan demikian, pengembangan industri tidak perlu sepenuhnya dimulai dari nol.
Bebin juga mendorong pemerintah menyiapkan ekosistem pendukung, mulai dari regulasi hingga sinkronisasi kebijakan antar kementerian. Ia mengingatkan proyek mobil nasional jangan sampai berhenti sebagai wacana.
Dari sisi investasi, Yannes memperkirakan kebutuhan belanja modal untuk kapasitas produksi awal 50.000 unit per tahun mencapai sekitar Rp 7 triliun-Rp 11 triliun. Sementara untuk kapasitas 100.000 unit per tahun, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai Rp 13 triliun-Rp 18 triliun.
Perhitungan tersebut bergantung pada kedalaman proses produksi yang dilakukan di dalam negeri, termasuk stamping, welding, painting, assembly, serta fasilitas riset dan pengembangan.
Angka tersebut belum mencakup investasi pabrik pemasok komponen maupun kebutuhan modal kerja. Untuk volume produksi 50.000 unit per tahun saja, kebutuhan modal kerja diperkirakan mencapai Rp 2 triliun-Rp 3 triliun.
"Perkiraan kasar total kebutuhan ekosistem hingga tahun kelima diperkirakan berada di kisaran Rp28 triliun-Rp41 triliun," ujar Yannes.
Kebutuhan investasi tersebut membuat peran Danantara Development Management Fund (DDMF) menjadi penting. Pemerintah sebelumnya menyatakan DDMF akan menjadi sumber pendanaan bagi proyek strategis, termasuk mobil listrik nasional, motor nasional dan pembangunan Giant Sea Wall.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan target produksi massal mobil nasional paling lambat pada 2028 dalam pidato penyampaian RUU APBN 2027 pada Sidang Paripurna DPR, Jumat (14/8/2026).
Menurut Yannes, DDMF dapat berperan sebagai instrumen pembiayaan jangka panjang sekaligus katalis untuk menarik investasi swasta. Namun, dukungan pendanaan perlu berjalan beriringan dengan kesiapan industri dan pasar.
Bebin menambahkan, pemerintah tidak harus membangun seluruh fasilitas produksi dari nol. Pemanfaatan pabrik yang sudah tidak aktif dapat menjadi pilihan untuk menekan kebutuhan investasi sekaligus mempercepat dimulainya produksi.
Di sisi konsumen, ia juga mendorong insentif fiskal serta dukungan pembiayaan dari bank pemerintah dengan bunga ringan agar mobil nasional dapat dijangkau masyarakat.
"Barulah layak disebut mobil nasional. Barulah rakyat bisa merasakan mobil berkualitas dengan harga bersahabat," kata Bebin.
Dengan demikian, target produksi massal 2028 tidak hanya bergantung pada tersedianya dana. Pemerintah juga perlu segera mengunci mitra, produk, teknologi, fasilitas produksi, rantai pasok dan skema pembiayaan konsumen agar mobil nasional dapat benar-benar masuk tahap komersialisasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
