kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Ongkos Logistik RI Tinggi, Asosiasi Logistik Beri Penjelasan


Minggu, 25 Februari 2024 / 22:35 WIB
Ongkos Logistik RI Tinggi, Asosiasi Logistik Beri Penjelasan
ILUSTRASI. Sejumlah truk pengangkut muatan peti kemas melintas di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (9/1/19). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/pd.


Reporter: Rashif Usman | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Jokowi mengatakan biaya logistik Indonesia masih sedikit lebih tinggi dibanding dengan negara-negara lain. Ia pun mengingatkan 10 tahun lalu biaya logistik RI mencapai 24% terhadap PDB, sementara negara lain sudah di level 9%-12%. 

“Sekarang biaya logistik kita sudah turun kurang lebih 14%. Sudah turun, tetapi masih tetap sedikit lebih tinggi dari negara-negara lain, ini menjadi PR kita bersama,” kata Jokowi saat meresmikan Makassar New Port dipantau dari Youtube Kompas TV, Kamis (22/2) lalu.

Menanggapi hal ini, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia, Mahendra Rianto menjelaskan bahwa biaya logistik Indonesia sebesar 14% tersebut merupakan biaya rantai pasok dan logistik Indonesia, di mana ada empat komponen yang masuk di dalamnya, yakni biaya inventory, biaya pergudangan, biaya admin dan IT serta biaya transport.

"Ada empat komponen di dalam biaya rantai pasok dan logistik. Kalau itu dijumlah totalnya mencapai 14% terhadap PDB Indonesia," kata Mahendra kepada Kontan, Jumat (23/2).

Baca Juga: Kemenkeu Sudah Cairkan Anggaran Rp 16,5 Triliun untuk Pemilu

Mahendra menyampaikan, angka 14% biaya logistik itu memang terbilang tinggi jika dibandingkan dengan negara lain. Namun demikian, menurutnya perbandingan ini akan terlihat lebih efisien jika melihat kondisi lanskap suatu negara.

"Biaya logistik China di bawah 10%, tapi mereka semua daratan. Thailand juga tidak punya banyak pulau, Malaysia cuma punya dua pulau besar. Sementara kita punya 17 ribu pulau. Harus apple to apple dulu baru kita bandingkan efisiensinya," ucapnya.

Sementara jika ingin membandingkan dengan negara lain, menurutnya, Filipina yang paling mendekati kondisi lanskap di Indonesia. 

"Kalau yang mirip dengan kita itu adalah Filipina, nah bisa kita bandingkan apakah Filipina lebih rendah daripada kita? Kalau tidak salah hanya beda 1%-2% (lebih rendah) dibandingkan Filipina," ujarnya.

Ke depannya, pemerintah menargetkan biaya logistik nasional akan menyusut hingga menjadi 8% dari PDB di tahun 2045. 

Baca Juga: Bank Yakin Bisa Tampung Lebih Banyak Dana Term Deposit DHE di Tahun Ini

Mahendra optimis bahwa Indonesia bisa mencapai target biaya logistik tersebut. Untuk meraih target ini, ia meminta agar sentra-sentra industri mulai dibangun di wilayah Timur mulai dari sekarang.

"Saatnya kita membangun di wilayah Timur, biar ada balance volume. Sekarang kita punya 21 tahun lagi untuk menuju 2045, mari kita bangun di wilayah sana sehingga secara domestik biaya angkutan laut itu bisa turun. Tak bisa lagi Jawa sentris," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×