kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.619   66,00   0,38%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pandemi covid-19 berpotensi menggerus bisnis tekstil dan garmen


Senin, 30 Maret 2020 / 17:22 WIB
ILUSTRASI. Pekerja memproduksi kaos di industri konveksi rumahan di Lesanpuro, Malang, Jawa Timur, Selasa (17/9/2019).


Reporter: Agung Hidayat | Editor: Noverius Laoli

Khususnya negara-negara di Eropa yang memberlakukan lockdown. Adapun dari segi produksi Rizal mengakui pasti ada penurunan, meski ia belum dapat merincikan besarannya.

Ancaman 'perumahan' karyawan, dapat saja terjadi jika kondisi semakin parah.

Namun API memastikan opsi tersebut ialah pilihan terakhir dilakukan jika pasar semakin anjlok, sedangkan sampai sekarang asosiasi menegaskan industri belum ada yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Baca Juga: Bakal gelar demo, buruh tuntut pengusaha bayar gaji dan THR penuh

Di tengah melemahnya produksi tekstil nasional, industri di China mulai recovery. Rizal bilang, jika industri di dalam negeri tak segera disokong lewat safeguard dan relaksasi perpajakan, maka akan sangat sulit menyaingi gempuran impor dari luar ketika konsumsi dalam negeri mulai bertumbuh usai pandemi berakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×