kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Paramita Bangun Sarana (PBSA) dirikan dua anak usaha baru


Jumat, 14 Juni 2019 / 15:11 WIB
Paramita Bangun Sarana (PBSA) dirikan dua anak usaha baru

Reporter: Amalia Fitri | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi, infrastruktur, mekanikal, dan elektrikal, PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA), mendirikan anak perusahaan PT Paramita Andalan Struktur di bidang fabrikasi baja, guna membantu memenuhi kebutuhan produksi baja yang sebelumnya hanya bisa diserap 1.500 ton.

Kebutuhan fabrikasi baja PBSA setiap tahun mencapai 5.000-6.000 ton. Sementara perseroan selama ini hanya dapat menyerap 25% kebutuhan atau 1.500 ton saja.


"Perusahaan yang dibangun di daerah Bekasi ini, diharapkan dapat memberi mencapai target produksi tersebut. Setidaknya melengkapi kontribusi yang dibutuhkan walau jumlahnya bisa jadi masih kecil secara persenan," ungkap Vincentius Susanto Direktur dan Sekretaris Korporat PBSA pada Kontan.co.id, Jumat (14/6).

Ia berkata, pada masa awal pembangunan anak perusahaan, pihaknya hendak fokus pada proses bertumbuh perseroan secara kualitas. Dengan pertimbangan itu pula, PBSA melakukan efisiensi dengan menggelontorkan dana investasi sebesar Rp 8 miliar. "Namun kami baru bisa berikan Rp 2 miliar untuk kebutuhan sewa tempat tersebut," lanjutnya.

Sementara anak perusahaan yang juga bergerak di bidang jasa konstruksi di daerah Sibu, Serawak, Malaysia, Paramita Bangun Sarana Sdn. Bhd., dibangun untuk memenuhi permintaan jasa konstruksi di Malaysia.

Berbeda dengan anak PT Paramita Andalan Struktur di Bekasi yang baru selesai berdiri pada Mei 2019 di Bekasi, Jawa Barat, Paramita Bangun Sarana Sdn Bhd, sudah ada sejak 2018.

Vincentius mengemukakan, anak perusahaan di Sibu berkontribusi terhadap pendapatan perseroan sebesar Rp 4 miliar - Rp 5 miliar di tahun buku 2018.

"Namun saat ini, kami terkendala permasalahan perijinan di Malaysia. Sesuatu yang tidak bisa kami kendalikan. Karenanya, kegiatan anak perusahaan di Sibu masih ditunda atau postponed. Rencananya akan kembali aktif pada Kuartal IV 2019 mendatang," jelas Vincentius.

Dengan kondisi tersebut, anak perusahaan di Malaysia tidak berkontribusi dalam pendapatan perseroan kuartal I 2019. Sekadar informasi, pada 2018, kinerja keuangan PBSA tercatat mengalami penurunan pendapatan 43% di angka Rp 359 miliar dari angka Rp 630 miliar pada 2017.

Angka tersebut masih jauh dengan target yang dipasang pada 2018 di angka Rp 700 miliar. Vincentius mengatakan, penurunan terjadi utamanya karena penundaan pengerjaan proyek andalan pada 2018, dan baru dapat terlaksana pada kuartal IV 2018.

Sementara itu, laba kotor PBSA turut melesu 48,2% di angka Rp 74 miliar dari Rp 143 miliar. Demikian pula dengan laba bersih yang menurun lebih dari 50% di angka Rp 46,6 miliar. Namun perseroan mencatat kenaikan aset tetap sebesar Rp 146,7 miliar di tahun 2018, atau meningkat lebih dari 100% dari angka Rp 68,9 miliar pada 2017.

"Kenaikan ini karena pembelian aset kantor di Office 8 senilai Rp 2miliar -4 miliar daerah Kuningan, Jakarta Selatan pada Mei. Jadi, pada September mendatang kantor operasional kami pindah untuk menampung lebih banyak karyawan," pungkasnya.




TERBARU

Close [X]
×