Reporter: Benediktus Krisna Yogatama | Editor: Yudho Winarto
JAKARTA. Rencana pemerintah membangun pembangkit listrik hingga berkapasitas 35.000 megawatt (MW) dalam lima tahun mendatang bisa mendatangkan berkah bagi industri lampu. Jika proyek ini sukses, potensi pasar lampu dalam negeri juga bakal bertambah besar.
John Mannopo, Ketua Umum Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia (Aperlindo) menjelaskan, jika proyek listrik bertambah, maka jumlah pelanggan listrik juga akan ikut bertambah. Jelas, ini akan membuat tingkat pemakaian lampu ikut naik. Efeknya, laba pebisnis lampu bisa ikut berpendar.
Dalam hitungan John, jika proyek setrum 35.000 MW terealisasi dalam jangka waktu lima tahun, maka akan ada penambahan 15 juta pelanggan listrik baru, atau 3 juta pelanggan baru per tahun. Jika satu pelanggan memakai lima lampu saja, berarti akan ada 15 juta lampu baru yang dibutuhkan pasar per tahun.
Belum lagi, permintaan lampu pengganti yang diperkirakan 15 juta lampu per tahun. Maka itu, John menyimpulkan, proyek setrum 35.000 MW bisa menambah pasar lampu sebanyak 30 juta unit per tahun. "Jika lampu dijual seharga US$ 2 per lampu, maka setiap tahun pasar lampu akan naik US$ 60 juta. Inilah dampak positif dari proyek 35.000 MW," kata John ke pada KONTAN, Senin (26/1).
Adapun untuk 2015 ini, John memproyeksikan pasar lampu di Indonesia bisa mencapai 539 juta unit, naik 10% jika dibandingkan dengan realisasi penjualan lampu sepanjang 2014 yakni sebanyak 490 juta unit. Adapun penjualan lampu tahun lalu, terdiri dari; 25 juta lampu jenis pijar, 75 juta lampu jenis neon panjang, 350 juta lampu hemat energi (LHE) dan 40 juta lampu light emitting diode (LED).
John menjelaskan, selain karena proyek setrum pemerintah, pertumbuhan ekonomi menjadi pendorong kenaikan pasar lampu di Indonesia.
Diminati Investor
Potensi kenaikan pasar lampu di Indonesia ini juga dilirik investor lampu negara lain. John menyebutkan, ada beberapa calon investor dari berbagai negara yang menemui Aperlindo untuk konsultasi. Mereka antara lain: datang dari Jepang, China, Korea Selatan dan Taiwan.
Investor dari Korea Selatan misalnya, ada LG dan Samsung, dari China ada Midea dan Leedarson. "Calon investor dari Jepang dan Taiwan saya lupa namanya," kata John.
Untuk membangun pabrik lampu, membutuhkan investasi US$ 10 juta US$ 20 juta. Agar investor tertarik John minta pemerintah menaikkan bea masuk impor lampu menjadi 10%-15%.
"Kami berharap investor berinvestasi indutstri lampu LED, agar menekan impor. Lampu LED tidak mengandung merkuri dan konsumsi listriknya lebih hemat," tutur John.
Sementara Edo Wikar Wicaksono Marketing Manager Osram menyatakan belum bisa berkomentar soal potensi bisnis lampu tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













