kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.920   11,00   0,06%
  • IDX 5.955   29,09   0,49%
  • KOMPAS100 771   6,00   0,78%
  • LQ45 595   5,57   0,95%
  • ISSI 206   0,76   0,37%
  • IDX30 331   3,00   0,91%
  • IDXHIDIV20 425   3,41   0,81%
  • IDX80 88   0,72   0,82%
  • IDXV30 117   0,98   0,85%
  • IDXQ30 108   0,79   0,73%

Pasokan Tersendat, Industri Semen Butuh 14 Juta Ton Batubara Tahun 2026


Selasa, 14 April 2026 / 19:04 WIB
Pasokan Tersendat, Industri Semen Butuh 14 Juta Ton Batubara Tahun 2026
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI), Lilik Unggul Raharjo (KONTAN/Sabrina Rhamadanty)


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri semen dalam negeri, baik perusahaan semen milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta sepanjang tahun ini membutuhkan maksimal 14 juta ton batubara sebagai bahan bakar utama.

“Kalau kebutuhan batubara itu 12,5 sampai 14 juta ton per tahun. Ini untuk seluruh perusahaan,” ungkap Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI), Lilik Unggul Raharjo dalam agenda Halal Bi Halal ASPERSSI di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Di sisi lain, Lilik mengungkap industri semen sedang kesulitan mendapatkan pasokan batubara akibat belum pastinya produksi dari masing-masing penambang karena terlambatnya pengesahan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) batubara tahun 2026.

“BUMN (sektor semen) sendiri kemarin mendapatkan kesulitan, dia belum bisa dapat batubara karena RKAB belum keluar. Mereka bisa saja dapat batubara dari pasar, tetapi harganya bukan harga Domestic Market Obligation (DMO),” ungkap Lilik.

Semetara itu, menurutnya, produksi masih dimungkinkan dilakukan oleh perusahaan semen swasta yang mengambil pasokan batubara mereka menggunakan harga spot, meskipun lebih mahal dari harga batubara DMO.

“Ini kan jadi ketempuan, ada penetapan DMO tapi dia beli harga pasar dalam harga tinggi. Yang justru bisa survive adalah swasta karena dia bisa beli harga pasar, meskipun memang lebih tinggi dari harga DMO,” jelas dia.

Meski begitu, harga batubara yang lebih tinggi akan memicu kenaikan biaya produksi, yang berdampak pada kenaikan harga semen. “Akhirnya, mau gak mau menaikan harga semen,” ungkapnya.

Di tengah kondisi tersebut, industri semen nasional juga dihadapkan pada tantangan struktural berupa kelebihan kapasitas.

Dengan utilisasi yang rendah, efisiensi menjadi isu krusial yang menurut Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) harus segera diatasi.

Namun di balik tekanan jangka pendek, industri mulai mengarahkan strategi jangka panjang menuju keberlanjutan. ASPERSI telah menyusun peta jalan dekarbonisasi yang menargetkan emisi nol bersih pada 2050.

"Di roadmapnya ASPERSI kita menargetkan di 2050 nanti ada net zero emission dengan beberapa langkah pathway," kata Lilik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Tag


TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×