kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.039.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.783   -40,00   -0,24%
  • IDX 8.235   -86,97   -1,04%
  • KOMPAS100 1.158   -11,60   -0,99%
  • LQ45 838   -5,18   -0,61%
  • ISSI 293   -4,14   -1,40%
  • IDX30 443   -2,67   -0,60%
  • IDXHIDIV20 534   -1,42   -0,26%
  • IDX80 129   -1,09   -0,84%
  • IDXV30 144   -1,15   -0,79%
  • IDXQ30 143   -0,54   -0,37%

Akindo: Impor Kedelai AS Sebesar 3,5 Juta Ton per Tahun Aman bagi Kebutuhan Nasional


Kamis, 26 Februari 2026 / 20:52 WIB
Akindo: Impor Kedelai AS Sebesar 3,5 Juta Ton per Tahun Aman bagi Kebutuhan Nasional
ILUSTRASI. Akindo menilai komitmen impor hingga 3,5 juta ton per tahun membuka ruang peningkatan konsumsi kedelai (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Indonesia menyepakati kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia–AS. 

Salah satu poin utama dalam kesepakatan tersebut adalah penguatan komitmen pasokan kedelai asal AS sebanyak 3,5 juta ton per tahun selama lima tahun.

Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga menyatakan, pada prinsipnya pihaknya mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat kerja sama dagang dengan AS melalui ART.

“Komitmen pembelian kedelai merupakan bagian dari upaya untuk menjamin kepastian pasokan kedelai nasional, dan menjaga kelancaran distribusinya”, ujar Hidayatullah Suralaga, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Baca Juga: Blue Bird (BIRD) Optimalkan 25.000 Armada Hadapi Lonjakan Mobilitas Mudik Lebaran

Hidayat mengungkapkan, selama ini AS merupakan mitra utama Indonesia dalam penyediaan kedelai. Kerja sama yang lebih terstruktur melalui ART, tambah Hidayat, diharapkan dapat memperkuat program ketahanan pangan nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total impor kedelai Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 2,56 juta ton, dengan sekitar 90% pasokan berasal dari AS.

Dengan kebutuhan kedelai nasional di kisaran 2,7 juta ton–2,9 juta ton per tahun, Hidayat menilai komitmen hingga 3,5 juta ton per tahun membuka ruang bagi peningkatan konsumsi kedelai untuk memenuhi kebutuhan protein nabati. 

Akindo melihat tambahan pasokan tersebut dapat diserap melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus memperkuat industri hilir dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Peluang tersebut dinilai dapat mendorong peningkatan kapasitas produksi, daya saing, serta ekspansi pasar ekspor melalui pengembangan produk olahan kedelai seperti tempe, tahu, susu kedelai, kecap, dan produk turunan lainnya.

Baca Juga: Merdeka Gold (EMAS) Kirim Dore Perdana, Pani Masuk Fase Menuju Produksi Komersial

“Komitmen ini dapat memperkuat ekosistem industri kedelai nasional. Dengan pasokan yang lebih terjamin, pelaku usaha memiliki kepastian untuk berinvestasi, meningkatkan kapasitas produksi, dan menciptakan lapangan pekerjaan,” imbuhnya.

Di sisi lain, Akindo berharap kesepakatan dagang dengan AS tidak mengganggu hubungan kerja sama yang telah terjalin antara importir swasta dengan pemasok kedelai dari negara lain. 

Kerja sama perdagangan ini juga diharapkan tetap sejalan dengan program peningkatan produksi kedelai dalam negeri guna mendukung target pemerintah dalam pencapaian swasembada pangan.

Selanjutnya: Antisipasi 14 Juta Pemudik, Indosat Perkuat Jaringan di 75 Jalur Mudik Lebaran 2026

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Jumat 27 Februari 2026, Bangun Reputasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×