Sumber: Kompas.com | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT PLN (Persero) menepis isu kekosongan pasokan batubara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) akibat penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta pemangkasan produksi.
Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo mengatakan, perseroan telah mengamankan pasokan sebesar 84 juta metrik ton batubara dari delapan pemasok besar.
Terdiri dari Adaro Indonesia, Arutmin Indonesia, Berau Coal, Kaltim Prima Coal, Kideko Jaya Agung, Multi Harapan Utama, Indominco Harapan Mandiri, dan Bukit Asam.
"Total seluruh yang akan dipasok adalah sekitar 84 juta metrik ton," ujar Rizal kepada awak media di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Baca Juga: Kemenhub Siapkan 401 Bus Mudik Gratis Lebaran 2026, Angkut 15.834 Penumpang
Sebelumnya, Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) mengungkapkan sebagian besar PLTU saat ini hanya memiliki stok batubara untuk belasan hari operasi, bahkan ada yang kurang dari 10 hari. Padahal idealnya minimal 25 hari operasi.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa kelistrikan nasional terancam padam.
Rizal pun menegaskan bahwa pasokan batubara untuk pembangkit berada dalam jumlah yang memadai. Menurutnya, pasokan 84 juta ton batubara dari delapan pemasok tersebut diyakini cukup hingga akhir Agustus 2026.
Ia menyebut, PLN telah mendapatkan kepastian penugasan terhadap delapan pemasok utama batubara, baik untuk kebutuhan PLN maupun produsen listrik swasta atau independent power producer (IPP).
"PLN baru saja mendapatkan kepastian penugasan terhadap delapan pemasok utama batubara untuk PLN dan IPP,” sambung dia.
Baca Juga: Permintaan Parkir Saat Mudik Lebaran 2026 Diproyeksi Tumbuh Hingga 40%
Dengan adanya kepastian tersebut, maka kondisi pasokan batubara di sejumlah pembangkit diharapkan segera membaik. Ia optimistis sebelum Lebaran seluruh pembangkit telah menerima tambahan pasokan batubara.
Rizal juga menilai kondisi PLTU yang dilaporkan APLSI tidak serta-merta mencerminkan persoalan cadangan. Menurut dia, hari operasi pembangkit (HOP) harus dilihat dari stabilitas pasokan yang terus berjalan.
Selama suplai batubara masuk secara konsisten dan tidak mengalami tren penurunan signifikan, maka operasional pembangkit akan tetap aman.
"Kalau dibilang HOP 10 hari, itu kan posisinya berjalan terus. Yang penting stabil dan tidak mengalami penurunan terus-menerus," kata Rizal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













