kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Pelaku industri sawit optimis harga CPO memiliki tren positif di tahun 2020


Senin, 30 Desember 2019 / 20:35 WIB
Pelaku industri sawit optimis harga CPO memiliki tren positif di tahun 2020
ILUSTRASI. Ada sentimen B30, pelaku industri sawit optimis harga CPO memiliki tren positif di tahun 2020. REUTERS/Samsul Said/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD

Reporter: Muhammad Julian | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku industri kelapa sawit optimis penjualan minyak kelapa sawit memiliki prospek yang baik di tahun 2020.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono mengatakan mandatori biodiesel 30% (B30) akan meningkatkan serapan konsumsi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO)pada tahun depan.

Baca Juga: Fokus pada segmen di luar CPO, begini strategi sejumlah emiten sawit menyongsong 2020

Di sisi lain, musim kemarau berkepanjangan yang terjadi pada tahun 2019 berpotensi menyebabkan terjadinya perlambatan laju pertumbuhan produksi CPO pada tahun 2020 mendatang.

“Nampaknya kenaikan produksi baik di Indonesia maupun Malaysia tidak setinggi (pertumbuhan) produksi di tahun 2019 dibandingkan dengan 2018,” ujar Mukti kepada Kontan.co.id (30/12).

Sebagai gambaran, menurut Juru Bicara GAPKI Tofan Mahdi, produksi CPO di tahun 2018 tercatat sebesar 47 juta ton. Sementara itu, estimasi produksi CPO di tahun 2019 diperkirakan akan mencapai 50 juta ton, atau naik tipis sekitar 6,38% dibanding produksi CPO tahun 2018.

Baca Juga: Komisaris Pertamina tinjau Kesiapan sarana dan fasilitas di Merak

Mukti berharap kedua faktor ini diharapkan mampu menahan harga rata-rata CPO di atas US$ 700 per ton. Sebagai gambaran, Mukti mencatat harga rata-rata CPO berada di level US$ 500 per ton ketika harga CPO tertekan pada beberapa waktu lalu.

Di tengah kondisi yang demikian, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) menargetkan produksi Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan inti perseroan bisa bertumbuh sebesar 5% dibanding produksi perkebunan inti tahun 2019 yang diproyeksikan mencapai 1,40 juta ton pada tahun 2020.

Untuk menunjang realisasi dari target tersebut, SGRO menganggarkan dana sebesar Rp 400 miliar atau setara dengan ? dari anggaran belanja modal tahun depan (capital expenditure/capex) untuk pemeliharaan dan pengembangan asset perkebunan seperti misalnya pembelian pupuk, pemeliharaan tanaman, dan sebagainya.

Baca Juga: Fokus hilirisasi, begini strategi Mahkota Group (MGRO) hadapi industri sawit di 2020

Tidak hanya itu, SGRO juga akan terus melakukan intensifikasi guna mendongkrak produksi TBS. “Caranya yakni dengan pemupukan, water management, dan pemeliharaan kebun yang mengadopsi praktik agronomi terbaik,” kata Sekretaris Perusahaan  PT Sampoerna Agro Tbk, Michael Kesuma kepada Kontan.co.id (30/12).




TERBARU

Close [X]
×