kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.616.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 18.125   42,00   0,23%
  • IDX 6.162   70,74   1,16%
  • KOMPAS100 808   11,82   1,49%
  • LQ45 616   9,78   1,61%
  • ISSI 213   2,54   1,21%
  • IDX30 347   5,86   1,72%
  • IDXHIDIV20 428   5,53   1,31%
  • IDX80 92   1,39   1,53%
  • IDXV30 117   1,25   1,09%
  • IDXQ30 111   1,82   1,67%

Pemerintah belum kompak soal energi terbarukan


Minggu, 29 November 2015 / 22:17 WIB


Reporter: Juwita Aldiani | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Penerapan pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di akhir tahun ini masih jauh panggang dari api. Persoalan subsidi yang diyakini bisa menggairahkan industri energi terbarukan ini masih kusut.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldy Dalimi masih yakin energi terbarukan bisa menyumbang 23% dari semua bauran energi yang dibutuhkan dalam negeri di tahun 2025 mendatang.

Menurut dia, kebijakan feed-in tariff sudah benar di jalan mengembangkan EBT. "Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan feed-in tariff ini agar investor bisa berhitung keuntungan dari pembangunan energi terbarukan," kata  Rinaldy usai diskusi Energi KIta di Gedung Dewan Pers pada Minggu (29/11).

Dengan feed-in tariff, pemerintah menyanggupi membeli energi terbarukan lebih mahal ketimbang harga jual PLN ke konsumen. Tak hanya untuk menarik investor di sumber energi baru seperti angin, matahari, dan biomassa, kebijakan ini juga sebagai subsidi agar melindungi konsumen jika biaya produksi naik.

Namun, menurut Rinaldy, kepentingan stakeholder yang menghambat berbagai sumber energi baru ini. Misalnya, Kementerian Keuangan yang berikhtiar mengurangi beban subsidi di APBN. 

Rinaldy ingin ada rumusan masalah yang sama dari masing-masing kementrian seperti ESDM, Keuangan, dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas ) agar solusi yang ditawarkan bisa berjalan beriringan.

Menurut dia, titik terang EBT mulai terlihat jika sudah ada tiga indikator ini. 

"Pertama, ada problem statement yang sama. Kedua, harus ada integrasi antara PLN, PGN, dan Pertamina dalam menjalankan sesuatu. Ketiga konsistensi dari pemerintah," ujar Rinaldy 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×