kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Pemerintah: Beras sintetis di Bekasi tak terbukti


Selasa, 26 Mei 2015 / 19:12 WIB
ILUSTRASI. Simak beberapa inspirasi ide tukar kado saat Natal lengkap dengan caranya yang bisa dilakukan bareng keluarga dan teman.


Reporter: Mona Tobing | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kemtan) pastikan beras sintetis atau beras plastik yang sempat beredar di Pasar Bekasi tidak terbukti mengandung plastik. Hal ini berdasarkan atas hasil penelitian di laboratorium empat instansi.

Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian menjelaskan, sore tadi pihaknya telah melaporkan ke Presiden Joko Widodo bahwa hasil penelitian terkait beras plastik yang beredar di Pasar Bekasi tidak terbukti. Adapun empat instansi yang melakukan uji sampling terhadap beras sintetis tersebut adalah: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Kepolisian RI.

"Keempatnya telah mengeluarkan hasil negatif. Tidak ada beras plastik atau beras palsu di masyarakat. Sudah clear semua jadi kami minta masyarakat tetap tenang karena beras yang beredar adalah beras aman," tandas Amran pada Selasa (26/5) di gedung DPR.

Lebih lanjut Amran menjelaskan bahwa, isu beras palsu tidak hanya berada di Indonesia tapi juga sampai ke Malaysia. Hanya saja, Amran mengatakan bahwa isu beras palsu yang beredar tidak terbukti keberadaannya. Ia menyayangkan beras plastik yang beredar pada saat panen raya tengah berlangsung adalah isu untuk memancing impor beras. Sementara, pemerintah menyatakan stok beras sampai hari Lebaran masih cukup. Sebab, Bulog telah merilis stok beras saat ini telah mencapai 1,3 juta ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×