kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pemerintah diminta lindungi produsen kertas lokal


Kamis, 06 Maret 2014 / 17:16 WIB
ILUSTRASI. Buruh tani membawa padi hasil panen di areal persawahan Kepuh, Karawang, Jawa Barat, Jumat (11/2/2022). ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/rwa.


Reporter: Handoyo | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengharapkan pemerintah untuk melindungi produsen kertas dalam negeri. Pasalnya, selama ini produk kertas Indonesia diluar negeri menjadi sasaran dugaan praktik dumping karena diduga ada subsidi dari pemerintah.

Rusli Tan, Wakil Ketua Umum II APKI mengatakan, selain Pakistan produk kertas Indonesia juga mendapat serangan dari beberapa negara lain seperti Jepang, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Rusli khawatir bila tidak ada perlindungan terhadap produsen kertas lokal maka perusahaan kertas dalam negeri akan gulung tikar.

Meski tidak merinci, Rusli bilang produk kertas asal Indonesia memang jauh lebih kompetitif harganya bila dibandingkan dengan produk kertas asal negara lain. "Dari sisi bahan baku saja biaya produksi jauh lebih murah," kata Rusli, Rabu (5/3).

Di Indonesia pohon akasia dan eukaliptus dapat berkembang lebih cepat dibandingkan dengan di negara sub-tropis. Dalam waktu 4-6 tahun, pohon akasia tersebut sudah dapat dipanen dan dimanfaatkan untuk bahan baku, sedangkan bila ditanam di wilayah sub-tropis pohon akasia baru dapat dipanen dalam waktu 60-70 tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×