kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 -1,49%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pemerintah pede tekan biaya logistik jadi 19,2%


Selasa, 10 Oktober 2017 / 13:02 WIB
Pemerintah pede tekan biaya logistik jadi 19,2%


Reporter: Ghina Ghaliya Quddus | Editor: Dessy Rosalina

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dunia usaha berbicara lebih spesifik mengenai pentingnya efisiensi biaya logistik. Target yang ingin dicapai pemerintah adalah mengurangi biaya logistik dari 24% menjadi 19,2% di tahun 2019.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pemerintah optimistis penurunan itu bisa terjadi. Indikasinya adalah dengan adanya Container Maritime Activities. Perusahaan PT (CMA-CGM), dan beberapa operator yang besar-besar sudah masuk ke Tanah Air.

“Jadi dengan kapal-kapal yang besar itu datang maka skala ekonomi yang terjadi di Indonesia semakin baik,” katanya ditemui di sela acara Indonesia Transport, Logistics & Maritime Week (ITLMW) 2017 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Selasa (10/10).

Ia melanjutkan, bahkan dengan adanya kapal-kapal besar itu secara tidak langsung menarik barang-barang yang selama ini ke negara lain menjadi ke Jakarta. “Dengan mereka datang dan sekarang ini intensif tiga kali sebulan, itu satu indikasi economic of scale dari Priok sudah terjadi,” ujarnya.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Logistik dan Pengelolaan Rantai Pasokan, Rico Rustombi mengatakan pemerintah perlu melakukan studi kelayakan yang terencana untuk mengurangi biaya logistik sehingga disparitas harga dapat diakhiri.

“Hal ini dapat dimulai dengan pembentukan sebuah kelompok kerja yang terdiri dari elemen pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha, sehingga implementasi proyek-proyek transportasi yang berimplikasi kepada unsur logistik dan supply chain dapat bersama-sama dikawal secara sungguh-sungguh,” jelasnya.

Kadin sendiri telah melakukan kajian bahwa ada enam hal yang bisa menekan tingginya biaya logistik. Pertama, pemetaan komoditas unggulan daerah, terutama di Kawasan Indonesia Timur. Adanya komoditas unggulan yang bisa diangkut kapal ini bisa meningkatkan load factor.

Kedua, pembangunan infrastruktur yang langsung mendukung sektor logistik. Ketiga, regulasi yang jelas dari pemerintah pusat hingga daerah. Keempat, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang logistik. Kelima, inovasi teknologi untuk membuat sistem logistik lebih efisien.

“Faktor terakhir itu lain-lain, seperti transparansi birokrasi dan meminimalkan pihak-pihak yang tidak memiliki kompetensi di bidang logistik agar tidak terlibat jauh,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×