kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45729,74   -6,98   -0.95%
  • EMAS963.000 3,44%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Pemerintah pertimbangkan 4 hal sebelum adopsi 5G


Rabu, 27 November 2019 / 17:56 WIB
Pemerintah pertimbangkan 4 hal sebelum adopsi 5G
ILUSTRASI. A sign advertising 5G is pictured at Mobile World Congress (MWC) in Shanghai, China June 28, 2019.

Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Adopsi teknologi 5G di Indonesia terus dikaji pemerintah. Ada empat faktor dalam pertimbangan sebelum Indonesia adaptasi teknologi tersebut.

Ismail, Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menjelaskan instansinya sudah mempertimbangkan implementasi 5G di Indonesia. Namun, ada empat hal yang menjadi pertimbangan sebelum menuju 5G.

Baca Juga: Tahun depan, XL Axiata (EXCL) perkirakan belanja modal sekitar Rp 7,5 triliun

"Momentum yang tepat untuk masuk ke pasar, mendorong infrastructure sharing, meminta operator untuk menyiapkan business model yang inovatif dan bermanfaat buat masyarakat, serta terakhir kolaborasi dan perluasan," ujarnya di Jakarta, Rabu (27/11).

Lebih lanjut ia menegaskan pemerintah tidak mau buru-buru, tetapi juga tidak terlambat. Karenanya, pihaknya juga mendorong 'sharing' infrastrktur guna menekan 40% biaya. Selain itu, pihaknya ingin melihat formulasi demand, supply, dan ekosistem harus dipertimbangkan secara keseluruhan.

Ismail menegaskan, pemerintah tidak mau sekadar mengikuti tren 5G yang didorong pemanfaatannya oleh negara-negara produsen dari jaringan telekomunikasi generasi kelima ini. Menurutnya, pihaknnya enggan mengadopsinya apabila tak bisa menjadi tuan rumah.

Baca Juga: Huawei siapkan bonus US$ 286 juta bagi karyawan demi keluar dari efek daftar hitam AS

"Indonesia besar dan permintaannya juga besar sehingga jangan sampai Indonesia hanya belanja atau dimanfaatkan tetapi tidak bisa jadi tuan rumah. Jangan hanya berdebat di dalam negeri, tetapi tidak melihat bahwa Indonesia sebenarnya hanya bulan-bulanan global,” tegasnya.




TERBARU

Close [X]
×