Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mentaya Sawit Mas dan PT Karunia Kencana Permai yang berada di bawah Wilmar Group memanfaatkan kawasan High Conservation Value (HCV) seluas 5.211 hektare sebagai bagian dari strategi pengelolaan keberlanjutan perusahaan.
Kawasan ini dioperasikan sebagai sekolah alam yang menyasar pelajar, sekaligus menjadi instrumen penguatan praktik lingkungan dalam operasional perkebunan kelapa sawit.
Program edukasi tersebut dijalankan di kawasan Eco Trail HCV dan mulai bergulir sejak 2021. Dalam kurun 2023–2025, tercatat sebanyak 1.380 siswa mengikuti kegiatan pembelajaran berbasis alam yang dirancang untuk mengenalkan fungsi kawasan konservasi, keanekaragaman hayati, serta risiko kerusakan ekosistem akibat aktivitas manusia.
Baca Juga: Perkuat Komitmen HAM demi Bisnis Berkelanjutan
Dari sisi bisnis, inisiatif ini mencerminkan upaya perusahaan mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) ke dalam pengelolaan aset lahan.
Pengelolaan kawasan HCV menjadi salah satu prasyarat penting dalam industri sawit, baik untuk menjaga keberlanjutan produksi maupun memenuhi tuntutan kepatuhan terhadap standar nasional dan global.
Manager HCV Wilmar Central Kalimantan Project, Moch Dasrial, menyampaikan bahwa pendekatan pembelajaran langsung di lapangan dirancang agar peserta memahami nilai konservasi secara konkret.
“Inisiatif ini bertujuan agar siswa mendapatkan pengalaman dan belajar langsung tentang alam,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (9/2/2026).
Baca Juga: Produsen Susu KIN ABC Kogen Dairy Gandeng TMS Pacu Efisiensi Operasional & Bisnis
Sejak 2024, Wilmar menggandeng Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah untuk memperkuat materi edukasi.
Melalui pendampingan penyuluh BKSDA, siswa diperkenalkan pada fungsi kawasan konservasi, jenis flora dan fauna dilindungi, serta ancaman seperti perburuan liar dan pembukaan lahan yang tidak terkendali.
Satwa yang dikenalkan antara lain orangutan, buaya muara, rangkong, dan rusa sambar. Materi ini dilengkapi dengan kegiatan penelusuran jalur konservasi sepanjang sekitar satu kilometer, di mana peserta mendapatkan penjelasan mengenai peran pohon lokal, burung endemik, dan tanda-tanda keberadaan satwa liar.
Sebagai bagian dari praktik konservasi jangka panjang, setiap kegiatan ditutup dengan penanaman pohon. Sekitar 100 bibit ditanam dalam setiap sesi, terdiri dari balau merah (Shorea balangeran), durian, gaharu tanduk, nangka monyet, dan jambu-jambuan. Hingga kini, total 2.480 pohon telah ditanam bersama para siswa.
Baca Juga: Setelah Lepas dari PKPU, WICO akan Tutup Operasional Bisnis Distribusi Consumer Goods
Shorea balangeran sendiri tercatat dalam kategori Critically Endangered (CR) menurut IUCN, sementara jenis lainnya berfungsi sebagai sumber pakan satwa liar di kawasan HCV.
Selain aspek lingkungan, program ini juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi Environment, Health, and Safety (EHS). Siswa diperkenalkan pada prinsip keselamatan dasar, kerja sama tim, dan perilaku hidup sehat, yang sejalan dengan standar operasional perusahaan di sektor perkebunan.
Melalui pengelolaan kawasan HCV sebagai ruang edukasi, Wilmar menempatkan konservasi bukan sekadar kewajiban kepatuhan, tetapi sebagai bagian dari pengelolaan aset jangka panjang.
Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana strategi keberlanjutan dapat berjalan seiring dengan kepentingan bisnis di industri kelapa sawit yang semakin mendapat sorotan dari pasar dan regulator.
Selanjutnya: Pertagas Alirkan Gas 3.800 MMBTUD ke Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei
Menarik Dibaca: Promo Alfamart Paling Murah Sejagat 8-15 Februari 2026, Sambal Indofood Beli 2 Hemat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Kelapa Sawit
- Konservasi
- Lingkungan
- Orangutan
- Satwa Dilindungi
- Sekolah Alam
- Wilmar Group
- keanekaragaman hayati
- ESG
- Penanaman Pohon
- keberlanjutan
- Industri Sawit
- HCV
- Karunia Kencana Permai
- Mentaya Sawit Mas
- High Conservation Value
- BKSDA Kalimantan Tengah
- Shorea balangeran
- pendidikan lingkungan
- Eco Trail HCV













