kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.718.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.709   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.518   -3,63   -0,06%
  • KOMPAS100 848   -0,96   -0,11%
  • LQ45 642   0,75   0,12%
  • ISSI 229   -1,10   -0,48%
  • IDX30 359   0,71   0,20%
  • IDXHIDIV20 438   1,12   0,26%
  • IDX80 97   -0,06   -0,06%
  • IDXV30 122   -0,08   -0,06%
  • IDXQ30 114   0,40   0,35%

Pendanaan Startup di Indonesia Masih Prospektif, Tapi Investor Bakal Lebih Selektif


Jumat, 28 Agustus 2026 / 19:59 WIB
Pendanaan Startup di Indonesia Masih Prospektif, Tapi Investor Bakal Lebih Selektif
ILUSTRASI. ilustrasi startup (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pendanaan untuk perusahaan rintisan (startup) di Indonesia cenderung meredup. Investor semakin selektif untuk menyuntikkan modal. Tak hanya dari sisi prospek bisnis, investor juga semakin jeli untuk menghindari kasus tindak kecurangan (fraud).

Pengamat Ekonomi Digital, Heru Sutadi mengamati saat ini investor tidak mudah mengucurkan modal hanya karena startup punya banyak pengguna atau valuasi tinggi. Di samping mengukur seberapa cepat startup bisa untung, investor juga semakin ketat menuntut perusahaan untuk memenuhi aspek tata kelola yang baik atau Good Corporate Governance (GCG).

"Pelajarannya cukup sederhana bahwa startup bukan dunia yang bebas dari aturan hanya karena disebut perusahaan teknologi. Uang investor dan masyarakat harus dipertanggungjawabkan," kata Heru saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (28/8/2026).

Menurut Heru, kasus fraud pada sejumlah startup menunjukkan bahwa pertumbuhan cepat, valuasi tinggi dan investor besar sekalipun tidak menjamin perusahaan sehat. Manajemen, terutama pendiri perusahaan (founder) harus transparan. Laporan keuangan harus dapat diaudit, transaksi harus diawasi, dan harus ada mekanisme untuk mencegah penyalahgunaan kewenangan.

Baca Juga: Tech Winter Masih Berlanjut, Pendanaan Startup Makin Selektif

"Investor juga jangan hanya terpukau oleh growth. Mereka harus memeriksa uangnya, bisnisnya dan orang-orang di belakangnya. Startup yang hebat bukan yang paling cepat membakar uang, tetapi yang mampu tumbuh sehat dan dipercaya," imbuh Heru.

Heru menilai bahwa fenomena "tech winter" tidak akan membunuh startup Indonesia, tapi sedang memupuskan budaya startup yang terlalu mudah mendapatkan uang. "Satu sisi jadi berat, di sisi lain ini justru sehat. Kita tidak membutuhkan lebih banyak startup yang pandai membuat valuasi, tetapi lebih banyak startup yang benar-benar menyelesaikan masalah, menghasilkan uang, menjaga tata kelola dan bertanggung jawab kepada investor serta masyarakat," terang Heru. 

Meski tren pendanaan startup melandai, tapi bukan berarti investor meninggalkan Indonesia. Tengok saja perusahaan teknologi finansial dan investasi, Ajaib, yang baru saja meraih pendanaan strategis dari investor global senilai US$ 270 juta atau sekitar Rp 4,8 triliun dari SBI Holdings, raksasa keuangan asal Jepang.

Baca Juga: Startup Indonesia Masih Bergantung Pendanaan Asing, CELIOS Soroti VC Lokal

Belum lama ini, McEasy juga mengumumkan pendanaan Seri B senilai US$ 9 juta atau sekitar Rp 161 miliar yang terdiri dari pendanaan ekuitas dan venture debt. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Integra Partners, perusahaan modal ventura yang berbasis di Singapura.

"Indonesia sebenarnya masih menarik karena pasarnya besar dan kebutuhan digitalnya belum selesai. Tetapi investor sekarang tidak datang hanya karena Indonesia punya 280 juta lebih penduduk. Mereka mencari bisnis yang jelas menghasilkan uang dan bisa berkembang," terang Heru.

Heru menyoroti sejumlah sektor yang masih punya prospek apik dan masih potensial dilirik oleh investor. Antara lain teknologi finansial (fintech), Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), logistik, teknologi B2B, kesehatan, energi dan teknologi untuk sektor produktif.

"Unicorn dan bahkan decacorn baru tetap mungkin lahir, tapi saya kira generasi berikutnya tidak akan lahir dari perusahaan yang hanya mengejar jumlah pengguna. Era sebelumnya dimana ada istilah “besar dulu, untung belakangan” sudah semakin ditinggalkan investor," tandas Heru.

Baca Juga: Jumlah Startup di RI Belum Diimbangi Kualitas, Ekonom Sorot Kepercayaan Investor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×