kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.694.000   -13.000   -0,76%
  • USD/IDR 16.401   5,00   0,03%
  • IDX 6.606   19,09   0,29%
  • KOMPAS100 964   -2,78   -0,29%
  • LQ45 747   -0,24   -0,03%
  • ISSI 206   0,68   0,33%
  • IDX30 388   0,44   0,11%
  • IDXHIDIV20 470   1,92   0,41%
  • IDX80 109   -0,32   -0,29%
  • IDXV30 114   -1,22   -1,06%
  • IDXQ30 127   0,06   0,05%

Pengamat: Blending BBM Memungkinkan, Tapi Tidak untuk Komersial


Rabu, 26 Februari 2025 / 20:00 WIB
Pengamat: Blending BBM Memungkinkan, Tapi Tidak untuk Komersial
ILUSTRASI. Isu mengenai kemungkinan blending BBM RON 90 menjadi RON 92 terus menjadi perbincangan, meskipun Pertamina telah membantah praktik tersebut.


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Isu mengenai kemungkinan blending bahan bakar minyak (BBM) RON 90 menjadi RON 92 terus menjadi perbincangan, meskipun Pertamina telah membantah praktik tersebut dalam rantai distribusinya.

Menanggapi hal ini, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti menyatakan secara teknis, blending BBM memang memungkinkan, tetapi penggunaannya lebih banyak untuk kepentingan riset dan tidak diperuntukkan bagi konsumsi komersial.

“Fuel blending secara engineering itu ada, baik untuk produk petroleum maupun petrokimia, tetapi ada syarat dan ketentuannya. Dalam dunia BBM, blending biasanya dilakukan dalam skala akademis atau riset untuk mencari campuran paling efisien dan ramah lingkungan,” kata Yayan kepada Kontan, Rabu (26/2).

Di Indonesia, praktik blending sudah banyak dilakukan dalam lingkup amatir, komunitas, maupun riset. Namun, Yayan menyoroti potensi moral hazard dalam praktik ini jika tidak diawasi dengan ketat.

Baca Juga: Prabowo Buka Suara Soal Dugaan Korupsi Tata Kelola Minyak Mentah di Pertamina

“Kalau ada asymmetric information dan celah dalam standar pengecekan kualitas, maka ada risiko penyalahgunaan, terutama jika ada oknum yang memanfaatkan celah ini untuk keuntungan pribadi,” katanya.

Yayan juga menjelaskan bahwa penggunaan BBM RON 90 semakin berkurang di tingkat global. Berdasarkan data Asian Clean Fuels Association, selain Indonesia, saat ini China masih memiliki sekitar 15% pangsa pasar BBM dengan RON di bawah 90. Namun, pada 2025, negara tersebut berencana menghapus penggunaan bahan bakar di bawah RON 92, yang menunjukkan tren global menuju BBM dengan oktan lebih tinggi.

Di beberapa negara seperti Singapura, BBM RON 90 bahkan sudah tidak tersedia lagi di pasar. Tren ini mengindikasikan standar bahan bakar di dunia semakin mengarah pada kualitas yang lebih baik demi efisiensi dan keberlanjutan lingkungan.

Yayan menekankan pentingnya pengawasan dan transparansi dalam distribusi BBM di Indonesia untuk memastikan kualitas bahan bakar tetap terjaga sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Baca Juga: Pertamina Bantah Oplos Pertamax dan Pertalite dalam Kasus Dugaan Korupsi Pertamina

Selanjutnya: Pemberian Hak Monopoli BUMN Berpotensi Timbulkan Persaingan Usaha Tak Sehat

Menarik Dibaca: Bali Soap Luncurkan Produk Body Butter dan Hand Cream Terbaru

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Finance for Non Finance Entering the Realm of Private Equity

[X]
×