kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.650.000   17.000   0,65%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.899   -13,21   -0,22%
  • KOMPAS100 767   -1,93   -0,25%
  • LQ45 586   -1,59   -0,27%
  • ISSI 203   0,07   0,03%
  • IDX30 331   -1,21   -0,36%
  • IDXHIDIV20 410   -0,84   -0,20%
  • IDX80 88   -0,10   -0,12%
  • IDXV30 112   0,67   0,60%
  • IDXQ30 107   -0,57   -0,53%

Penggunaan Kecerdasan Buatan Tinggi, Kesiapan Organisasi di Indonesia Masih Terbatas


Jumat, 10 Juli 2026 / 14:21 WIB
Penggunaan Kecerdasan Buatan Tinggi, Kesiapan Organisasi di Indonesia Masih Terbatas
ILUSTRASI. Ilustrasi artificial intelligence, AI (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Percepatan adopsi kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) tidak hanya mengubah cara perusahaan menjalankan bisnis, tapi juga memunculkan tantangan baru dalam pengembangan sumber daya manusia.

Meski penggunaan AI di lingkungan kerja terus meningkat, kesiapan organisasi dalam memaksimalkan teknologi tersebut masih belum merata.

Berdasarkan Work Trend Index 2024 dari Microsoft dan LinkedIn, sebanyak 92% pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia telah menggunakan generative AI dalam pekerjaan sehari-hari.

Namun, Cisco AI Readiness Index 2025 menunjukkan, hanya 23% organisasi di Indonesia yang masuk kategori pacesetters. Ini adalah perusahaan yang siap memanfaatkan AI secara optimal. Kondisi ini menunjukkan, keberhasilan transformasi AI tidak hanya ditentukan investasi teknologi, juga oleh kesiapan talenta.

Kebutuhan terhadap kompetensi baru semakin meningkat. World Economic Forum memproyeksi, hingga tahun 2030, kemampuan seperti analytical thinking, creative thinking, resilience, technology literacy, serta pemahaman mengenai AI dan big data akan menjadi keterampilan yang paling dibutuhkan di dunia kerja.

Di saat yang sama, kemampuan komunikasi menjadi faktor penting untuk mendukung penguasaan keterampilan tersebut, terutama dalam lingkungan bisnis yang semakin global. Namun, kemampuan bahasa Inggris tenaga kerja Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah.

Berdasarkan EF English Proficiency Index 2025, Indonesia masih berada dalam kategori low proficiency. Hambatan bahasa tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga terhadap kinerja perusahaan.

Baca Juga: KEK Industropolis Batang Perluas Program PRIMA Demi Cetak SDM Industri Siap Kerja

Studi global IDC (2025) menunjukkan 78% perusahaan mengalami kendala dalam berinteraksi dengan klien, mitra bisnis, maupun melakukan ekspansi pasar akibat keterbatasan bahasa. Sementara itu, 74% perusahaan menyebut hambatan komunikasi turut memengaruhi kolaborasi internal dan proses pengambilan keputusan.

Menariknya, tantangan tersebut tidak selalu akibat rendahnya kemampuan bahasa Inggris. Banyak profesional sebenarnya telah memahami bahasa Inggris, tapi belum memiliki kepercayaan diri untuk menggunakannya dalam situasi kerja.

Kesenjangan antara memahami dan mampu berkomunikasi secara efektif inilah yang dinilai dapat menghambat kolaborasi, produktivitas, sekaligus pemanfaatan teknologi AI secara maksimal.

Maka, pengembangan keterampilan komunikasi dan bahasa Inggris mulai dipandang sebagai bagian dari strategi peningkatan global workforce readiness. Dengan kemampuan komunikasi yang lebih baik, karyawan diharapkan mampu bekerja lebih efektif dalam tim lintas negara, beradaptasi terhadap perubahan teknologi, serta mendukung transformasi digital yang tengah berlangsung di berbagai sektor.

Country Director ELSA Business Indonesia, Yasser Muhammad Syaiful menilai, kesiapan organisasi di era AI tidak cukup hanya mengandalkan adopsi teknologi.

"Investasi pada pengembangan keterampilan menjadi kunci untuk membangun organisasi yang lebih siap menghadapi perubahan serta meningkatkan global workforce readiness," ujar Yasset, Kamis (9/7). .

Berbagai perusahaan mulai memanfaatkan platform pembelajaran berbasis AI guna meningkatkan kompetensi komunikasi karyawan. Salah satunya melalui pendekatan pembelajaran yang dipersonalisasi sesuai peran dan kebutuhan pekerjaan. 

Pendekatan tersebut dinilai mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual sekaligus meningkatkan kepercayaan diri karyawan dalam menggunakan bahasa Inggris di lingkungan profesional. Selain itu, model pembelajaran berbasis AI juga memungkinkan pelatihan dilakukan secara lebih efisien dan dalam skala besar.

Ketika perusahaan berinvestasi pada pengembangan komunikasi, mereka tidak hanya meningkatkan kemampuan individu, juga memperkuat kolaborasi, produktivitas, dan kemampuan organisasi untuk beradaptasi terhadap perubahan.

"Melalui teknologi AI, pembelajaran dapat menjadi lebih personal, kontekstual, dan terukur sehingga memberikan dampak nyata bagi kesiapan tenaga kerja maupun pertumbuhan bisnis," terang Yasser.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×