Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor pariwisata Indonesia terus menunjukkan tren pemulihan hingga Mei 2026. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara (wisnus), surplus kunjungan wisatawan, hingga membaiknya tingkat okupansi hotel menjadi sinyal positif bagi kontribusi sektor ini terhadap perekonomian nasional.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, capaian tersebut menunjukkan pariwisata tetap memiliki daya tahan di tengah dinamika geopolitik global dan perlambatan ekonomi dunia.
"Capaian ini menjadi indikator bahwa pariwisata Indonesia memiliki daya tahan sekaligus tetap menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang penting," ujar Widiyanti dalam Laporan Bulanan Kinerja Kementerian Pariwisata, Jumat (10/7/2026).
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, kunjungan wisman pada Mei 2026 mencapai 1,38 juta kunjungan atau naik 5,83% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 1,31 juta kunjungan.
Secara kumulatif, sepanjang Januari-Mei 2026 jumlah kunjungan wisman mencapai 6,07 juta kunjungan atau meningkat 7,68% secara tahunan.
Baca Juga: PHRI Sebut Pelemahan Rupiah Jadi Peluang Tarik Wisman dari Negara Tetangga
Menurut Widiyanti, capaian pada Mei merupakan yang tertinggi sepanjang tahun berjalan dan mencerminkan masih kuatnya minat wisatawan asing berkunjung ke Indonesia.
Peningkatan tersebut terutama didorong pasar Asia Tenggara yang tumbuh 11,06% menjadi 608.076 kunjungan. Pertumbuhan juga berasal dari pasar Timur Tengah sebesar 5,67%, Asia lainnya 5,37%, Oseania 4,69%, Afrika 3,72%, dan Amerika 1,13%.
Sementara itu, pasar Eropa masih mengalami kontraksi 5,91% akibat ketidakpastian geopolitik global.
Widiyanti mengatakan kondisi tersebut sejalan dengan strategi Kementerian Pariwisata yang memperkuat pasar short-haul dan medium-haul sembari tetap menjaga pasar jarak jauh yang memiliki pengeluaran wisatawan lebih tinggi.
Selain kunjungan wisatawan asing, pergerakan wisatawan nusantara juga masih menjadi penopang utama sektor pariwisata.
Pada Mei 2026, perjalanan wisnus mencapai 106,16 juta perjalanan atau meningkat 8,69% dibandingkan Mei tahun lalu.
Adapun secara kumulatif selama Januari-Mei 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 523,22 juta perjalanan atau naik 2,86% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Bawa Berkah pada Industri Pariwisata, Wisman Banyak ke Bali
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa mengatakan, pada saat yang sama jumlah masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri justru mengalami penurunan.
Perjalanan wisatawan nasional (wisnas) ke luar negeri pada Mei 2026 tercatat sebanyak 550.382 perjalanan atau turun 6,05% dibandingkan Mei 2025.
Secara kumulatif, perjalanan wisnas sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai 3,69 juta perjalanan atau turun 3,88% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Penurunan perjalanan ke luar negeri terjadi bersamaan dengan meningkatnya perjalanan wisatawan nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik destinasi dalam negeri tetap kuat dan semakin menjadi pilihan masyarakat Indonesia," ujar Ni Luh.
Dengan perkembangan tersebut, Indonesia masih mencatatkan surplus kunjungan wisatawan. Pada Mei 2026, surplus mencapai sekitar 830 ribu kunjungan, sedangkan secara kumulatif Januari-Mei 2026 mencapai 2,37 juta kunjungan.
Menurut Ni Luh, surplus tersebut turut menopang perolehan devisa sektor pariwisata.
Pemulihan juga terlihat pada sektor akomodasi. Tingkat okupansi hotel berbintang pada Mei 2026 mencapai 50,76%, meningkat 2,48 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 48,28%.
Sementara secara kumulatif Januari-Mei 2026, tingkat okupansi hotel mencapai 46,99%, naik dari 44,85% pada periode yang sama 2025.
Baca Juga: PHRI Proyeksikan Industri Pariwisata 2026 Berat, Kuartal II Jadi Penentu
"Okupansi hotel yang membaik menjadi sinyal positif bagi ekosistem pariwisata karena berhubungan langsung dengan pergerakan wisatawan, pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, serta aktivitas ekonomi pendukung di destinasi," katanya.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Kementerian Pariwisata terus memperkuat promosi di pasar internasional melalui kegiatan sales mission, business matching, business gathering, hingga pameran pariwisata di Tiongkok, Korea Selatan, India, dan Malaysia.
Dari kegiatan promosi tersebut, Kementerian Pariwisata mencatat potensi perjalanan sebanyak 36.807 wisatawan, potensi transaksi Rp 7,27 miliar, serta potensi devisa mencapai Rp 559,48 miliar.
Selain promosi, pemerintah juga mempercepat pengembangan empat Destinasi Pariwisata Prioritas, yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo melalui penguatan konektivitas penerbangan, promosi terpadu, serta sinergi lintas kementerian dan pemerintah daerah.
Di sisi lain, penyelenggaraan Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 juga mulai memberikan dampak ekonomi di daerah. Hingga akhir Juni 2026, sebanyak 23 event yang telah dievaluasi berhasil menarik 1,34 juta pengunjung dengan nilai transaksi langsung mencapai Rp 90,53 miliar.
Pelaksanaan event tersebut juga melibatkan lebih dari 10.600 UMKM, sekitar 23.500 pekerja seni, serta membuka lapangan kerja bagi lebih dari 20.000 tenaga kerja.
"KEN menjadi instrumen penting untuk menggerakkan perjalanan wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat di daerah," tutup Ni Luh.
Baca Juga: Pelita Air dan Patra Hotels Optimistis Libur Sekolah Dongkrak Wisata Domestik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














