Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT PLN (Persero) menyatakan tengah melakukan kajian mendalam terkait rencana komersial ekspor listrik ramah lingkungan ke Singapura sebesar 3,4 Gigawatt (GW) pada tahun 2035 mendatang.
Manajemen memastikan bahwa prioritas utama perusahaan tetap berfokus pada pemenuhan kebutuhan energi bersih dalam negeri serta penguatan transmisi domestik.
Executive Vice President Komunikasi Korporat & TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto menjelaskan, penguatan infrastruktur kelistrikan di wilayah Sumatra menjadi fondasi penting sebelum interkoneksi lintas batas dijalankan.
Baca Juga: Buma (DOID) Fokus Pemulihan Kinerja Bertahap, Kejar Pendapatan Hingga US$ 1,3 Miliar
"Saat ini proses kajian dan pendalaman teknis masih terus dilakukan. Fokus utama PLN adalah memperkuat sistem kelistrikan di Sumatra sebagai fondasi utama, termasuk menyiapkan kesiapan infrastruktur transmisi dan integrasi pembangkit energi baru terbarukan (EBT) di dalam negeri," jelasnya kepada Kontan.co.id, Jumat (10/7/2026).
Guna mendukung integrasi pembangkit EBT yang masif, Gregorius menyatakan, PLN mengandalkan skema megaproyek jaringan transmisi terintegrasi yang telah masuk dalam perencanaan korporasi ke depan.
"Sejalan dengan hal tersebut, dalam RUPTL 2025–2034 PLN telah merencanakan pengembangan Green Enabling Super Grid, yaitu konsep pengembangan jaringan transmisi yang dirancang untuk mengatasi ketidaksesuaian (mismatch) antara lokasi potensi EBT dan pusat-pusat kebutuhan listrik," terangnya.
Lebih lanjut, perusahaan setrum pelat merah ini menegaskan bahwa komitmen ekspor melalui Danantara tersebut tidak akan mengorbankan target bauran energi hijau nasional yang sedang dikejar pemerintah.
"Pada prinsipnya, pemenuhan kebutuhan listrik dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, pemerintah bersama PLN terus mengeksplorasi berbagai opsi dan strategi terbaik agar pengembangan pembangkit EBT dapat berjalan selaras dengan pencapaian target bauran energi nasional, sekaligus membuka peluang kerja sama internasional yang memberikan nilai tambah bagi Indonesia," tegasnya.
Dia bilang, sistem keandalan pasokan domestik dijamin tetap aman karena seluruh perencanaan ekspor lintas batas atau cross border electricity trade (CBET) ini telah memperhitungkan kalkulasi teknis yang matang.
Baca Juga: Korporasi Didorong Adopsi CBR Mendukung UMKM, Wismilak Sudah Mulai Lebih Dulu
"Seluruh kajian dilakukan secara komprehensif, mencakup kesiapan pembangkit, kesiapan jaringan transmisi, serta aspek keandalan sistem. Dengan pendekatan tersebut, setiap potensi pengembangan perdagangan listrik lintas batas akan dirancang agar sejalan dengan penguatan sistem kelistrikan nasional, tanpa mengurangi pemenuhan kebutuhan listrik domestik," imbuhnya.
Di sisi lain, PLN menilai proyek perdagangan listrik lintas negara ini bakal memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi makro Indonesia hingga periode satu dekade mendatang.
"Di sisi lain, kerja sama ini juga diharapkan dapat memberikan multiplier effect bagi perekonomian nasional melalui terbukanya peluang investasi baru di sektor EBT dan infrastruktur ketenagalistrikan, mendorong pertumbuhan industri pendukung, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan nilai tambah ekonomi di dalam negeri," jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa kerja sama tersebut merupakan kelanjutan dari kerja sama sektor energi yang telah disepakati sejak tahun lalu. Ini mencakup tiga poin utama yaitu ekspor listrik hijau, pengembangan kawasan industri hijau, serta teknologi carbon capture and storage (CCS).
Baca Juga: Penumpang Commuter Line Jabodetabek Tembus 181,6 Juta pada Semester I-2026
"Tadi kita membahas menyangkut dengan listrik. Dari satu tahun lalu kan kita sudah melakukan penandatanganan MoU. Ada tiga MoU kita. Satu adalah ekspor listrik ke Singapura, listrik hijau, kedua kawasan industri hijau, dan yang ketiga adalah untuk carbon capture storage atau CCS-nya. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang kita tandatangani sejak tahun kemarin," ujarnya melalui keterangan resmi, Selasa (7/7/2026).
Bahlil mengungkapkan bahwa proses negosiasi tarif masih terus berlangsung. Pemerintah Indonesia menginginkan kesepakatan komersial yang tidak hanya membuka peluang ekspor energi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang seimbang serta adil bagi kedua negara tetangga.
"Nah, terkait dengan harga listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tetapi kita masih menegosiasikan harga. Regulasi kita memang menempatkan harga itu di pemerintah. Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














