kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pengusaha elpiji 3 kg minta Pemda tetapkan HET


Selasa, 24 Februari 2015 / 19:56 WIB
ILUSTRASI. Kode Redeem Free Fire (FF) Hari ini 11 September 2023, Sudah Klaim Aim High Bundle?


Reporter: Handoyo | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Harga jual elpiji 3 kilogram (kg) di sejumlah daerah mengalami kenaikan. Kenaikan harga disebabkan sejumlah pemerintah daerah telah melakukan menyesuaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji 3 kg.

Ketua Departemen Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Tubagus Sutisna mengatakan, daerah yang sudah mengeluarkan HET elpiji 3 kg adalah Tangerang dan Bandung. 

Penyesuaian HET elpiji 3 kg yang merupakan hak kepala daerah diperlukan pengusaha di tengah biaya operasional yang meningkat. "Harus disesuaikan kalau tidak begitu pengusaha rugi terus," kata Sutisna, Selasa (24/2).

Namun belum semua wilayah melakukan penyesuaian HET elpiji, sehingga ada kekhawatiran pengusaha dan masyarakat terjadi ketidakseimbangan harga. Selain membuat kesemrawutan harga antar wilayah, kondisi ini berpotensi menimbulkan kekosongan pasokan dari wilayah yang kepala daerahnya belum menentukan HET. "Nanti akhirnya ada rembesan dari yang belum punya HET, ke yang punya HET," kata Sutisna.

Terkait dengan alur distribusi elpiji 3 kg yang akan menggunakan metode tertutup, Sutisna bilang saat ini belum nampak. Sebagai langkah untuk menghindari gejolak harga, Sutisna berpandangan agar pemerintah segera untuk mengimplementasikannya. 

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mengatakan, persoalan yang masih menjadi persoalan dalam distribusi elpiji adalah migrasi penggunaan gas 12 kg ke 3 kg. "Kenapa tidak segera melakukan konversi ke yang berbasis LNG, kejar infraastruktur pipa. Selama fundamental tidak selesai, gejolak masih akan tetap terjadi," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×